intermezzo sebelum 22

Sudah lama saya tak menulis intermezzo  hal itu karena berbagai aktivitas dan kontemplasi yang mendekam. Pertama kali menulis intermezzo  saya berumur diawal dua puluh tahun. Waktu tak pernah bisa diingkari kini saya sudah hampir menginjak dua puluh dua. Begitu banyak cerita yang terangkum dalam satu waktu. Sebagai manusia saya tak pernah berhenti untuk berfikir dan menyerap segala hal yang terjadi disekeliling saya. Begitu banyak hal terjadi, begitu banyak peristiwa yang menyelinap dicelah-celah ruang dan waktu. Hingga kini pun saya tak pernah mengerti kemana saya harus melangkah. intermezzo ini berawal ketika saya merasa sudah dewasa dan sepatutnya mengerti tentang dunia. Ketika saya merasa  harus tahu kemana saya akan melangkah. intermezzo ini lahir dari bergulatan batin, peristiwa yang saya lalui dan berbagai buku yang saya baca.

Seiring waktu begitu banyak yang saya pelajari dari dunia, dari ayat-ayat, dari angin utara, dari mentari pagi maupun dari henyap senja. Saya tak pernah ingin berhenti untuk mengetahui, saya tak pernah ingin berada dalam satu posisi. Saya ingin terus berjalan, berkelindan dengan ilmu, tarik menarik dengan kata-kata. Kini saya sudah menulis walau pun tidak banyak, bukannya saya tidak ingin banyak menulis. Saya tidak banyak menulis bukan karena saya tidak mau namun karena saya memang tidak mampu. Saya menulis intermezzo ini pun disela-sela begitu banyaknya hal yang seharusnya saya selesaikan. Namun apa daya saya tetap harus menulis intermezzo ini hati yang membimbing saya untuk menulis intermezzo ini.

Sedikit dan buruknya tulisan saya mungkin karena ilmu saya memang tidak sebanyak yang seharusnya atau karena bakat saya yang tidak mumpuni namun saya terus menulis walaupun begitu banyak hadangan. Saya menulis bukan karena saya ingin menjadi ‘seseorang’ namun saya menulis karena menulis untuk saya adalah panggilan hati dan dengan menulis saya hidup. Saya lupa kapan saya menulis mungkin dipertengahan sekolah menengah pertama atau sebelumnya saya sudah lupa. Menulis kini sudah menjadi bagian hidup saya seperti layaknya membaca. Tidak bisa saya pungkiri setiap kali jiwa saya merasa rapuh saya menuangkannya lewat kata-kata. Saya pernah bercita-cita menjadi penulis hingga kini pun saya masih bercita-cita untuk menjadi seorang penulis namun berbagai realitas telah saya alami hingga hari ini, hidup begitu fluktuatif sayang sekali saya sebagai manusia yang sederhana terkadang tak mampu menahan gejolak hidup. Dengan begitu banyak hal yang telah saya lewati saya menjadi ragu untuk melangkah, saya belajar dari segala hal yang pernah saya lalui, sebagai manusia saya hanya mampu untuk berusaha entah siapa yang menentukan, tuhan atau semesta. Jalan yang masih panjang ini harus saya lalui entah dengan cara apa, saya tak mungkin lagi lari.

Dengan segala keraguan untuk melangkah saya beruntung saya telah menemukan surga saya. Terimakasih untuk dirinya yang entah mengapa ia tetap berada disisi kiri saya. Saya juga berterimakasih untuk terus diberi kesempatan untuk bernafas dan menghirup udara dunia. Waktu terus berjibaku membuat dunia semakin kecil dan pepat, waktu tak pernah lelah dan kalah ia terus berdetak. Tak begitu dengan ruang, ruang ia mampu kalah oleh sesak dan penuh walau angkasa tak pernah terhitung jaraknya. Sebagai manusia yang hidup dibumi saya mencoba memahami ruang dan waktu, mereka berdua tak pernah berhenti memeluk manusia dan menjadi bagian hidup darinya. Karena ruang dan waktu saya mampu menulis intermezzo ini, sebuah catatan kaki perjalanan hidup seorang manusia.

Seperti setiap manusia yang hidup dimuka bumi ini, hidup saya tak pernah seperti yang saya mau, sejak kecil saya belajar untuk menerima itu. Namun hanya waktu yang mampu mendewasakan saya. Saya belajar dengan menulis, saya selalu berharap dengan menulis saya mampu untuk terus belajar, belajar tentang apa saja, belajar untuk menjadi dewasa. Intermezzo ini mendewasakan saya, saya harap begitu. Saat ini saya berada diujung berjalan yang tengah saya lalui, saya belum mengetahui kemana langkah saya akan melangkah ketika saya telah menyelesaikan perjalanan saya yang kini tengah saya lalui. Intermezzo seperti sebuah refleksi perjalanan saya, kemana pun saya akan melangkah semoga saya tetap mampu menulis intermezzo ini. Karena dengan intermezzo saya tak hanya belajar untuk menulis saya belajar untuk hidup.

Ada beberapa teman yang membaca intermezzo, ada yang suka dan ada pula yang tidak. Ada yang peduli ada pula yang tidak. Begitulah intermezzo ini diterjemahkan semoga bagi yang membacanya tidak menciptakan kesia-siaan. Terakhir saya ingin mengucapkan terimakasih kepada  intermezzo, selamat ulang tahun semoga kau tetap berada didalam alam fikiran saya hingga maut memanggil kita berdua.

aku disini

Love is really nothing kata john mayer, dia salah Love is everything. Aku datang dijemput gelisah bersama rintik hujan diawal senja. Maaf atas segala kesalahan dan katakataku yang tak lagi menyentuh jiwa cantikmu. Semoga kau tahu aku baikbaik saja. Semoga kau selalu menganggap aku baik baik saja. Kau tahu setiap perjalananku tak pernah karena bukan karenamu. Hanya saja aku tak selalu mampu menahan ruang dan waktu untuk menentukan arah perjalananku.

Mungkin kau sudah muak akan katakataku. Sayang sekali terkadang aku cuma punya itu. Tapi coba lihat sekali lagi kenangan yang pernah kita lalui bersama. Aku selalu berusaha semampuku dengan niat dan upaya sebisa yang kulakukan untuk menerobos setiap sekat yang berlaku sekedar untuk berdiri disisi kananmu. Disetiap hari berikutnya aku akan terus berusaha disisi kananmu, biar isi kepalaku mengejang, kakikaki patah berdarah-darah, aliran darah tersumbat membilur, aku akan tetap sekuat hati untuk terus berada disisi kananmu.

Beethoven-Fur Elise bersenandung disela-sela ritmis suara hujan menghujam pucuk pohon kelapa. Aku tak mengerti suara menciptakan rasa. Yang kutahu suara tercipta dari rasa. Dengarkan suara batinku dan kau akan tahu bahwa tak ada yang lebih indah daripada mencintaimu. Biarkan gulungan ombak menghempas dan kita menangkap riaknya diujung pantai. Kita akan mendengar suara tawa masing-masing dan suaramu adalah suara surga.

percakapan surga dan neraka

“pinanglah aku besok”

“aku tak siap”

“pinanglah! Aku takut”

“takut apa?”

“takut kamu mati”

“tenanglah dalam kematian aku meminangmu”

“gimana caranya?”

“kupinang kamu dari nirwana sana”

“aku tak percaya nirwana, tuhan pun tidak”

“ya, tapi mungkin nirwana dan tuhan percaya kamu”

“pinanglah aku besok”

“baiklah ku pinang kamu besok tanpa cincin, tanpa saksi, tanpa bismilah”

“terimakasih”

“sama-sama”

 

Adam dan Hawa

Dahulu saya sering kali diceritakan roman tentang Adam dan Hawa yang hidup disurga. Kini saya mencoba untuk menelisik kembali ingatan-ingatan purba itu. Ketika adam diciptakan ia “kesepian”. Saya mahluk yang diciptakan Tuhan dengan logika, saya mencoba telusuri ini dengan itu. “kesepian” dalam prepepsi saya adalah sebuah rasa melankolia yang tercipta karena kesendirian. Sedangkan Adam hidup disurga bersama malaikat Tuhan, saya diceritakan malaikat Tuhan sangat banyak, tak terhitung jumlahnya katanya. Dengan banyaknya malaikat yang bahkan tak terhitung jumlahnya kenapa Adam harus merasakan kesendirian?

Adam “kesepian” lalu diambil tulang rusuknya maka terciptalah Hawa. Mahluk yang lebih lembut. Mahluk yang menyeimbangkan semesta Adam, mahluk yang disayangin Adam.  Ada dua versi yang saya dengar. Antara Adam dibujuk setan untuk memakan buah khuldi dan Adam yang dibujuk  Hawa untuk memakan buah khuldi. Saya tak tahu mana yang benar namun disetiap versi mereka akhirnya terusir dari surga.

Adam dan Hawa manusia ciptaan Tuhan yang pertama. Mereka sepasang, satu memberikan satu yang lain. Apa yang dilakukan sepasang manusia berada disurga? Disurga, katanya segala ada. Apa pun yang kita inginkan ada. Tak perlu bersusah payah, berpeluh resah, surga entah ia sebuah ruang atau waktu memiliki segalanya. Saat segalanya ada, apa yang harus dilakukan? Kita tak melakukan apapun disurga bukan karena tidak ada apapun seperti penjara, disurga kita tak melakukan apapun karena segalanya ada. Saat segalanya ada, mungkinkah kita memiliki cerita? Sepasang manusia berada disurga dengan segalanya yang ada, tak memiliki cerita. Saat Adam dan Hawa tak memiliki cerita, apakah mereka hanya saling menatap? Tak mengatakan apapun? Apa yang dilakukan sepasang manusia disurga saat tak ada siapa-siapa lagi disana?

Bahwa patut untuk diingat Adam dan Hawa adalah manusia. Mereka memiliki rasa bosan, apakah mereka bosan berada disurga? Bosan, karena tak memiliki cerita apa-apa. Apa yang diberikan satu sama lain jika keduanya memiliki segalanya. Kita, manusia diciptakan Tuhan dengan imajinasi, mari kita imajinasikan Adam dan Hawa tidak tergoda setan untuk memakan buah khuldi, namun mereka memilih untuk turun kedunia karena rasa bosan mereka atas surga. Bosan karena mereka saling mencintai. Cinta sepatutnya bukan segalanya ada. Cinta mengisi kekosongan, cinta bukan hanya rayuan, bukan hanya kata-kata, bukan hanya mawar merah, bukan hanya satu set makan malam romantis, bukan hanya dansa, bukan hanya beradu birahi. Cinta adalah satu memberikan satu yang lain. Apa yang seharusnya dibagi jika bukan cerita? Apakah tidak hampa saat cinta tak memiliki narasi? Dan ya memang cinta tak hanya percakapan, cinta adalah jalinan, cinta ketika satu hati berpaut kepada hati yang lain.

Kita imajinasikan Adam dan Hawa ingin turun kedunia karena ingin memiliki cerita, cerita yang dibagi satu dengan yang lainnya. Adam dan Hawa meminta Tuhan untuk menurukan mereka ke dunia. Tuhan menunjukan  caranya, memakan buah khuldi. Dalam roman Adam  dan Hawa versi ini kita mampu merasakan cinta kasih Tuhan, Tuhan yang berempati pada kesepian Adam dan Ia menciptakan Hawa. Tuhan yang berpengertian hingga keduanya diturunkan ke dunia. Tuhan tanpa wajah garang yang mengusir kedua manusia pertamanya dari surga. Tuhan yang Maha Pengasih, bukan Tuhan yang pencemburu atau pendendam seperti tafsir Tuhan para perusak agama yang menamakan  diri mereka pembela agama. Wajah Tuhan yang Maha penyayang bukan Tuhan yang mirip satpol PP yang suka menggusur.  Betapa rendahnya kedudukan manusia, saat mereka ada dimuka bumi ini sebagai orang-orang yang terusir. Tentu kita tak menginginkan keberadaan diri kita karena kita terusir, kita lebih mengharapkan keberadaan diri kita karena kita memilih.

Saat keduanya turun ke dunia, mereka ditempatkan dibumi. Keduanya bersusah payah saling menghidupi, saling memberikan apa yang mampu mereka berikan satu ke satu lainnya. Hingga tibalah mereka keduanya memiliki cerita, hingga mereka bercakap, mereka berbicara satu ke satu lainnya. Mereka memiliki cerita masing-masing, cerita yang mereka peroleh ketika mereka saling menghidupi, cerita yang mereka dapat ketika berusaha saling memberi. Hingga akhirnya mereka saling berterimakasih, saling mensyukuri keberadaan satu sama lain. Mereka memeluk mesra asmara, lalu beranak pinaklah mereka. Sesuatu yang tak mereka memiliki ketika disurga. Cinta kasih mereka dijalin dengan susah payah, bukan kebahagiaan tanpa batas disurga.  Cinta kasih mereka hadir karena peluh, karena perjuangan.

Itulah roman Adam dan Hawa dalam tataran imajinasi saya. Liar memang namun saya rasa cinta membutuhkan kesabaran dan perjuangan tak melulu kata-kata.

jakarta

Dan nyata hidup hanya tentang tinggi menjulang lalu merengguk mati. Menyisakan renungan pagi yang tak pernah berhenti. Belakangan terakhir ini saya meresapi betapa kota yang saya tinggali bukan selayaknya kota halaman. Kota saya dipinggir ibukota, kota saya jauh lebih baik dari pada ibukota sekalipun menjadi kota terkotor diseluruh nusantara. Mengapa? Nyatanya saya jauh lebih betah berada dikota saya dari pada harus ke ibukota walaupun hanya sepersekian detik saja. Belakangan ini saya sering mampir sebentar ke ibukota jangan tanya mengapa, karena saya tak cukup berani untuk mengutarakannya.

Ibu kota yang dinamakan Jakarta ini sudah hampir berumur tigaratusan tahun selama ingatan saya. Ingatan yang ditanam oleh berbagai media. Kota Jakarta dalam prepepsi saya adalah kota peluh. Kota yang haus akan keringat, tak perduli betapa lelahnya para warga, kota itu tak jemu untuk terus menghirup saripati kehidupan warganya. Bisa dibayangkan betapa banyak jalanan yang macet, trotoar yang penuh, dan duka cita didalam kendaraan umum yang selalu membayangi kota Jakarta. Kota yang setiap tahunnya mengadakan kontes kecantikan untuk warga mudanya, kota yang setiap tahun mengadakan festival untuk kemeriahannya. Kota yang sebelumnya hanya sebuah dermaga kini menjadi metropolitan.

Acap kali saya ditengah hari menjemukkan jalan raya kota Jakarta, jangan tanya alasannya karena saya enggan berbicara tentang itu. Dijalan raya kota Jakarta saya hanya merasakan kepenatan, kelelahan, kegelisahan dan kepala saya penuh akan pertanyaan. Pertanyaan mengapa jalan raya kota Jakarta, yang katanya sebuah kota metropolitan, kota bisnis dan kota yang penuh akan kesibukkan, jalan rayanya harus penuh oleh kendaraan saat jam-jam berkerja? Jika kita uraikan dengan logika, jam sibuk antara 06:00-09:00, dan 16:00-19:00. Jam berangkat kerja atau sekolah masih masuk dalam logika jika jalanan memang penuh, macet. Setelah itu para perkerja dan pelajar berada ditempat kerja atau sekolah. Jalanan seharusnya lebih lenggang. Begitu pula jam pulang antara 16:00-19:00, jam dimana semua para penggiat aktivitas pulang, menuaikan kewajiban jasmani dan rohani untuk beristirahat. Tapi mengapa hampir selalu pagi, siang hingga senja jalan raya kota Jakarta masih selalu dipenuhi kendaraan?

Jangan tanyakan kondisi kota saya, kota yang jorok dan setia pada kemalangannya. Macet hanya sebuah intermezzo dari sebuah perjalanan. Sedang dijakarta mereka, jakartanya para pejabat, pengusaha, selebritis, professional dan lain sebagainya, Jakarta mereka yang miskin, kumuh, dan kelaparan jam-jam  yang seharusnya lebih lenggang, masih saja kemacetan melanda. Neraka, mungkin itu sebuah kata yang tepat atau mungkin berlebihan saat kita merepresentasikan sebuah kemacetan.  Jam 10:00-14:00 tetap kemacetan merayapi jalanan kota Jakarta. Dengan kebebalan logika saya yang sempit mari kita uraikan kembali, bukankah kendaraan bermotor itu mahal? Mungkin motor bisa diambil dengan murah dengan kredit namun berapa banyak spasial yang digunakan motor roda dua? Jumlah mobil dijakarta mungkin tak sebanyak motor, namun kemacetan tidak hanya selalu disebabkan oleh kendaraan roda dua yang kadang ditumpangin sekeluarga yang jumlahnya empat orang. Saya seorang pengedara motor, saya tidak ingin membela para pengedara motor yang selalu diumpat, dimaki, dicaci oleh pengendara mobil karena membuat jalanan sempit atau menyerobot sembarangan. Saya tak membela pengendara motor yang jumlah kematiaannya lebih banyak daripada pengendara mobil, tidak, saya tidak membela pengendara motor.

Kendaraan roda empat selalu mejajaki jalan kota Jakarta. Saya rasa bukan karena kendaraan umum, tidak seperti bogor atau kota yang saya tinggali karena sepengelihatan saya yang mungkin kabur, jalanan kota Jakarta disesaki oleh kendaraan-kendaraan roda empat yang mewah. Kembali lahir sebentuk pertanyaan untuk apa para pengendara roda empat itu berada dijalan? Bukannya kendaraan roda empat yang mewah itu mahal? Bukannya orang-orang yang mampu membeli kendaraan roda empat yang mewah adalah para pejabat, pengusaha, professional yang pada jam-jam sibuk mereka berada ditempat mereka masing-masing untuk mengatur roda keberlangsungan Negara? Atau setidaknya perut keluarga mereka sendiri. Untuk apa berada dijalan? Terlalu awal untuk pulang, terlalu lambat untuk berangkat. Untuk makan siang? Untuk apa merengguk kelelahan berada dijalan untuk sekedar macet-macetan?

Seharusnya saya tak perlu banyak berfikir tentang ini, bukanya ingin tidak perduli namun saya harus konsentrasi saat mengedari kendaraan roda dua saya. Biarkanlah para pengendara dijalan itu meresapi kepenatan mereka, jika terus fikirkan siapa yang harus membenahi? Apa yang harus dibenahi? Seperti kata peribahasa tua “ibukota lebih kejam daripada ibu tiri”. Mungkin peribahasa itu ada benarnya karena tidak sedikit ibu tiri yang baik, namun ibukota, terlebih ibukota kita tak sedikit pun menyibakkan keramahannya. Dan memang sebaiknya saya harus lebih berhati-hati dan berkonsentrasi saat mampir ke ibukota, saya harus berhenti merenungi hal-hal dijalanan,  jangan tanya mengapa karena saya memang malu untuk menyampaikannya.

catatan perjalanan ethoedutrip 2011

diantara bening udara perbukitan sebuah desa tersapu malu didalamnya. Ada berbagai kenangan yang patut untuk dibagi. Tidak hanya tentang kelebampan dan dinginnya udara yang menusuk namun juga sejarah yang menyeruak hingga kedalam sumsum budaya, ekonomi, politik dan agama. Sebuah desa duapuluh empat kilometer dari kabupaten bandung. Desa citalahap, membuihkan kehikmatan dalam kehidupan. Desa yang menjadi pusat pertanian strawberry, buah yang acap kali dilambangkan atas kelembutan, manis kadangpula simbolisasi atas rasa nyaman. Desa yang hening dikala pagi, siang, petang maupun malam. Desa yang begitu harmoni mengikuti alur alam. Desa yang dikabarkan oleh kitab suci sebagai surga : air yang terus mengalir, tanah yang begitu subur, udara yang begitu sejuk serta senyum ramah yang selalu menghiasi wajah para penghuninya. Ditengah keserasian alam yang menyelimuti desa citalahap ada berbagai kisah yang kompleks, yang sarat akan makna, yang penuh akan tanya.

Didesa citalahap minim ruangan yang menghimpit, segala sesuatunya menjadi luas, menjadi lapang. Sawah yang berbukit, hutan yang megah dan rumah-rumah yang sederhana mencipta ketenangan batin. Saat kaki menjejak kita akan disapa oleh masjid yang dibangun begitu sederhana, sesederhana ambisi para jamaahnya yang khusyuk menikmati surga mereka. Dan salam hangat pun mulai merengkuh, para warganya menyapa seakan tamu adalah sahabat lama yang lama tak bertemu. Dihalaman masjid anak-anak berlari menyibakan alam imajinasi mereka, bermain dalam tawa dan suka yang sulit kita dapat diantara penjuru kota. Saat berada ditengah warga kita mampu merasakan sebuah kehangatan keluarga, tamu diterima dengan cinta.

Sulit untuk melepaskan keromantisan ini untuk mengenang desa citalahap yang indah itu. Aku sendiri tak mampu mempertahankan diri atas kemelankolisan yang meradang untuk meninggalkan desa yang kerap dikunjungin para pelajar itu. Bukannya aku tak ingin pulang namun desa itu sama tentramnya dengan rumah. Mungkin desa itu memang sebuah rumah, rumah bagi para pengembara yang resah. Suatu saat nanti bila aku memiliki kesempatan untuk kembali aku tak akan menamakannya “pergi” akan ku namakan “pulang” ke citalahap. Aku ingin sudahi segala hasrat emosi dan afeksi aku harus teguh pada kognisi dan logika. Karena jika aku terus mendayun antara kata-kata mengukapkan rasa “mereka” akan berkata aku bukan peneliti, aku subjektif dan catatan perjalanan ini tidak akan diakui. Sayang sekali aku tak perduli aku tetap dengan demensi ku sendiri, karena menurutku ke-valid-an data bukan terletak pada kreteria bahasa namun pada objektivitas untuk mengukapkan apa yang sebenarnya ada.

Seperti yang sudah kukatakan desa citalahap adalah desa yang indah, dan kelemahanku sebagai pencatatan perjalanan aku tak mampu mendeskripsikan demensi ruang dan waktu secara ilmiah. Dan memang cukup diketahui bahwa desa ini indah. Tak perlu penjabaran lanjut untuk melukiskannya. Desa citalahap memiliki seorang sesepuh, ia adalah orang yang paling dituakan, yang paling dihormati. Pak kayan sobandi namanya usianya sudah tujuhpuluh tahun. Pak kayan adalah seorang petani sayuran dan strawberry. Perawakannya sangat sederhana dan pembawaan yang sangat tenang, tutur kata beliau sangat lembut dan beliau juga sangat rendah hati. Kediaman beliau pun sederhana, beliau memiliki seorang istri ibu mumu biasa dipanggilnya, ibu mumu berkali-kali memohon maaf karena saat ini beliau tidak bisa menjamu karena sedang merawat ibunda beliau yang sedang sakit. Permohonan maaf yang tidak seharusnya diterima ini menyiratkan betapa warga desa citalahap begitu sangat rendah hati dan memiliki sisi kemanusiaan yang begitu menawan. Pak kayan memiliki sepuluh anak, lima anak lelaki dan lima anak perempuan. Ia juga telah memiliki tiga puluh tiga cucu dan dua orang cicit. Dua cucu perempuannya telah memasuki jenjang universitas dibandung. Keduanya berkuliah di universitas pendidikan Indonesia dan universitas islam bandung. Pak kayan bercerita walaupun keduanya lulusan pesantren namun juga dapat menuruskan pendidikan hinggan jenjang universitas. Cucunya yang berkuliah di universitas pendidikan Indonesia belajar Psikologi pendidikan sedangkan cucunya yang berkuliah diuniversitas islam Indonesia belajar dijurusan ilmu tarbiyah.

citalahap sistem keagamaan hampir seluruhnya termasuk kedalam organisasi keagamaan Persatuan Islam yang disingkat Persis. Persis ini menjadi darah keagamaan didesa citalahap, hampir seluruh warga desa citalahap adalah jamaah Persis. Pak kayan bercerita tentang bagimana citalahap hingga menjadi salah satu cabang dari organisasi islam Persis yang berpusat dikota bandung. Pak kayan bercerita bahwa pada tahun 1965 setelah terjadi peristiwa G30/S/PKI dijakarta seorang ustad yang bernama Umar Usama yang berasal dari aceh menyebarkan ajaran Persis didesa citalahap. Ustad Umar Usman pada saat itu bertugas sebagai pegawai Dapartement Agama dikota bandung. Pak kayan menurut penuturannya adalah salah satu warga desa citalahap yang pertama kali mengikuti ajaran Persis tersebut bersama kakak dan adiknya yang kini telah meninggal dunia. Ajaran Persis yang mengutamakan Al-Quran dan Hadist sebagai pusat ajarannya melarang para jamaahnya untuk melakukan ritual-ritual yang berasal dari nenek moyang tutur Pak kayan. Pada saat Persis belum masuk kedesa citalahap masih banyak warga desa yang melakukan ritual untuk persembahan agar sawahnya menjadi lebih subur. Menurut penuturan Pak Kayan desa citalahap memiliki banyak dukun dan paranormal. Ayah dari pak kayan sendiri adalah seorang dukun. Pak kayan sendiri pernah memiliki kepercayaan pada hal-hal spiritual diluar sistem keagamaan islam tersebut. Seiring berjalannya waktu seluruh warga desa citalahap menjadi jamaah dari Persis. Walaupun sudah lama Persis masuk kedalam desa citalahap namun baru dua tahun terakhir desa tersebut menjadi cabang resmi, kini ketua dari cabang Persis desa citalahap adalah Bapak Didid Mujadid.

Pak kayan menerangkan tentang struktur keanggotaan dari Persis. Persis memiliki lima cabang otonom, yakni Persistri yaitu adalah Persatuan islam Istri (Istri disini adalah konotasi dari Perempuan), Pemuda Persis, Pemudi Persis, Himpunan mahasiswa Persis, dan Himpunan mahasiswi Persis. Pak kayan berkata bahwa baru lima puluh lima orang yang menjadi anggota persis sedangkan warga lainnya hanya jamaah yang mengikuti ajaran Persis. Setiap anggota Persis diwajibkan untuk membayar iuran sepuluh ribu rupiah per bulan sebagai dana kolektif jika ada keperluan yang kolektif yang mendadak, seperti untuk anggota yang sakit atau terkena musibah, atau dana untuk sumbang yang lainnya.
Dari penuturan Pak Kayan aku mencoba menghipotesa skema masyarakat desa citalahap. Kultur atau kearifan lokal sunda didesa citalahap punah seiring semakin kuatnya ajaran persis didesa tersebut. Tak sengaja aku menjadi curiga akan adanya sejarah konspirasi orde baru pada waktu itu. Kecurigaanku berasal dari tahun hadirnya Persis didesa citalahap, mungkin pada waktu itu Persis sengaja dimasukkan pemerintah agar terhindar dari PKI karena pada saat itu kearifan lokal masih berjalan kuat didesa citalahap. Untuk kecurigaanku yang kedua adalah mungkinkah Persis sengaja dihadirkan didalam desa citalahap oleh para tetua desa pada waktu itu untuk menghindar dari tuduhan pemerintah keterkaitan desa dengan PKI yang mengincar masyarakat dengan kearifan lokal yang kuat. Kecurigaan-kecurigaan tersebut tak terjawab hingga akhirnya akupun harus meninggal desa citalahap.

Desa citalahap yang memiliki sumberdaya alam yang bagaikan surga, menjadi pemasok utama strawberry keseluruh Indonesia. Yang menjadi menarik adalah ketika strata ekonomi warga desa berbeda-beda ,walaupun penduduk desa tidak menunjuk secara langsung perbedaan tersebut. Warga desa yang menjadi distributor lebih memiliki tingkatan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan para petani. Tingkatan ini sangat menarik karena hal ini didasar oleh beragamnya motivasi kehidupan warga desa citalahap. Perbedaan kuantinitas dan transformasi ekonomi lebih banyak didasari oleh motivasi kehidupan. Perkembangannya ketika para warga muda mulai menjual hasil pertanian secara mandiri. Dapat dicontohkan lewat penuturan Pak Ridwan yang menjadi distributor strawberry sejak tahun 1997 hingga kini. Pak Ridwan yang baru berusia tiga puluh tujuh tahun telah mendistribusikan strawberry keberbagai penjuru nusantara, ia baru memiliki dua orang putri yang masing-masing berusia enam dan tiga tahun. Pak Ridwan bercerita pertama kali ia mencoba menjajaki bisnis strawberry ini ia bergabung dengan keluarganya ia menjadi penjual dalam proses perniagaan keluargannya. Sejak ia menikah ia memutuskan untuk mendirikan usahanya sendiri untuk menghidupi keluarganya. Usaha berkembang dengan pesat kini setiap harinya ia mendistribusikan strawberry setidaknya ke tigapuluh supermarket diseluruh kota bandung. Ia juga mengirim strawberry hingga Aceh dan Papua. Dua bulan terakhir sebelum kedatangan ku desa citalahap Pak Ridwan sedang mencoba dengan bisnis sayuran yang menurutnya sangat fluktuatif dan sangat tergantung dengan pasar. Pak Ridwan yang biasa berbisnis strawberry yang relatif memiliki harga yang stabil dengan bisnis sayuran ia harus pandai untuk menerka permintaan pasar dan pemasokan komoditi. Ia pun harus lebih ketat menentukan harga karena sayuran jauh lebih cepat busuk daripada strawberry yang cenderung lebih awet dua hingga tiga hari.

Pak Ridwan telah memiliki penghargaan atas prestasinya mempersentasikan hasil tanamnya pada salah satu lembaga pertanian swasta. Pak Ridwan walaupun seorang distributor ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai pertanian ia mengetahui bagaimana sampah dan limbah dapat dibuatnya sebagai kompos. Ia pun pernah menguji coba tanah yang ia meliki dengan melihat kadar keasaman Ph tanah tersebut. Pengetahuan tani yang ia miliki didapat secara otodidak dengan hanya membaca buku-buku pertanian yang berserak ditoko buku. Hemat ku kelebihan dari Pak Ridwan ialah ia ingin terus belajar dan motivasi kehidupannya lebih progresif dibandingkan dengan warga lainnya yang berprofesi sebagai petani.

Berbeda dengan Pak Ridwan, Pak Yana salah seorang warga yang juga seorang distributor pak yana tidak hanya bergerak pada bidang pertanian ia juga bergerak pada bidang souvernir dan konveksi. Pak Yana berawal dengan menjual bantal yang bermotif strawberry sebagai souvernir didaerah situ patenggang dan kawah putih sebuah daerah wisata, di ujung ciwidey. Pak Yana yang awalnya berkerja dengan berbagai profesi, ia pernah menjadi penjual makanan, penjual sirsak, kuli, supir angkutan umum. Kini ia telah memeliki perekonomian yang cenderung stabil dan memuaskan. Pak yana yang memiliki empat orang anak, anak sulungnya baru kelas tiga madrasah tsanawiyah yang setara dengan sekolah menengah pertama. Pak yana kini tidak hanya menjual bantal namun juga sandal, gantungan kunci, dan berbagai souvernir lainnya yang bermotif strawberry keberbagai stand dan toko dikota bandung. Tak hanya itu Pak Yana juga telah diliput oleh salah satu stasiun televisi swasta kerena pengembang souvernir bantal bermotif strawberry yang pertama.

Pak Yana pun menuturkan pengalamannya sebagai penjual souvernir bantal maupun sebagai distributor strawberry. Ia telah pergi keberbagai belahan nusantara, ia bercerita pernah pergi jakarta untuk mengantarkan bantal ke mangga dua, Jakarta sedangkan ia tidak pernah ke Jakarta sebelumnya hingga akhirnya ia nekat namun akhirnya ia pulang dan pergi ke Jakarta dengan selamat. Ia pun pernah ke Pontianak selama beberapa bulan. Selama dipontianak ia telah tertipu oleh salah seorang anak buahnya. Ia bercerita saat dipontianak ia bertemu seorang jawa yang sedang kesusahan lalu ia membantunya, memberikan makan dan mencarikan tempat tinggal. Selama beberapa bulan orang tersebut sangat jujur dan dapat dipercaya namun suatu ketika ia pergi ke singkawang untuk keperluan bisnis ditengah perjalanan pak yana diberi minum hingga tidak sadar diri dan uang yang ia bawa senilai empat belas juta rupiah raib bersama orang tersebut. Kini pak yana telah memiliki omzet setidaknya delapan hingga sepuluh juta per bulan untuk pemasukkan atas souvernir strawberry atau buah strawberry. Pemasukkannya yang berasal dari souvernir strawberry berkurang dengan semakin banyaknya yang juga berjual souvernir yang sama. Sedangankan untuk buah segar strawberry Pak Yana baru menjalaninya selama dua tahun terakhir. Usaha konveksinya pun berkembang, berbagai kegiatan usahanya dibantu oleh istrinya yang biasa dipanggil Teh Hani. Teh Hani bersama beberapa keluarganya ikut serta menjalankan usaha yang dirintis oleh Pak Yana. Kepribadian yang sederhana dan bijak membuat orang yang tak mengenalnya akan tidak mengira ia adalah seorang pengusaha yang sukses didesanya.

Salah seorang distributor lainnya adalah Pak Asep, ia adalah seorang ketua rukun warga didesa citalahap, maka ia biasa dipanggil Pak Rw. Pak Rw pun seorang penguasaha yang sukses, unit kewirausahaanya adalah komoditi seledri dan daun bawang. Ia setiap harinya ia menjual berkilo-kilo seledri dan daun bawang tak jarang ia menjualnya hingga berkwintal-kwintal. Sebagai seorang Rw ia cukup menarik selain ia seorang yang terbilang sukses didesanya ia juga sangat rendah hati dan berpringai ramah. Ia menawarkan segala bantuan selama didesa itu. Pak Rw ini tersebut bercerita bahwa untuk menjadi seorang pemimpin didesa cukup sulit, ia menjadi seorang Rw karena sudah tidak ada lagi warga yang ingin menjadi seorang ketua rukun warga maka ia secara terpaksa menjadi seorang ketua rukun warga. Menurutnya menjadi seorang pemimpin disebuah desa lebih dijadikan sebagai wadah untuk beribadah dari pada untuk merenguk keuntungan seperti dikota. Pak Rw pula yang bercerita bahwa mengapa desa citalahap ini sangat subur dan air yang terus mengalir. Pak Rw bercerita bahwa desa citalahap ini memiliki banyak mata air, yang berasal dari bukit. Mata air yang terus mengalir ini dimanfaatkan oleh warga sebagai kolam ikan air tawar. Pak Ridwan, Pak Yana dan Pak Rw memiliki kolam ikan sebagai hobi. Pak Kayan Pun merawat kolam ikan yang berada divilla orang Jakarta yang ia rawat.

Desa citalahap tidak hanya sebuah desa yang henyap dari hiruk pikuk kebisingan kota, namun juga menjadi sebuah muara yang melenyapkan rasa gamang akan busuknya dunia, sebagai oase penenang batin yang kerap berbicara tanpa makna. Desa citalahap yang seakan hening oleh pengaruh globalisasi, terkukung diantara bukitnya, nyatanya ia, desa citalahap menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dalam sektor pertanian. Para warganya tidak hanya mengandalkan sumberdaya alam yang melimpah namun juga dengan kreativitas, dengan kerja keras, tanpa ambisi yang menggebu memperlihatkan tanpa harus bermigrasi kekota mereka dapat sukses ditempat kelahiran mereka, yang mereka cintai. Dengan panorama yang mempesona, dengan sumberdaya alam yang tak ada habisnya, dengan warga yang ramah dan taat beragama, desa citalahap menjadi penenang diantara muram durja dunia.

intermezzo kembali

Aku tak lagi ingin menentang kesepianku, aku tak ingin lagi jengah akan kesendirianku. Ku terima dengan segala dosa yang pernah kucipta. Aku hanya ingin berkerja, berkerja demi keabadiaan. Aku tak ingin lagi kehilangan akal budi, aku tak lagi sanggup untuk murka pada apapun yang terjadi dibumi. Atas segala hal yang pernah manusia perbuat dalam hidup, aku tak lagi mencibir. Kuserap dengan logika yang tak patah-patah. Aku tak ingin lagi kalah pada sejarah, setiap gerak yang kiniku luapkan hanya untuk masa depan, masa depan yang tak pernah ada habisnya.

Kini aku tak lagi mempunyai waktu untuk mendistribusikan luka. Aku hanya tak ingin kehilangan arah yang pernah kucoba untuk terka. Selamat tinggal kenangan dan aku pergi menghilang kembali larut kedalam filsafat kehingan. Aku melihat kereta-kereta menghantar para pengunjung dermaga, lajunya kehilangan arah dan keluar dari jalurnya, hampa mati semesta. Ku pertanyakan kembali untuk apa segalanya ada jika hanya untuk egoisme semata. Kuresap segala luka, tak ada peran yang tak kuresapi, apapun itu. Dan aku pun semakin kehilangan senjata, senjata untuk meraih kemenangan atas surga.

Kembali kurintis jalur-jalur malu ku. Dan segala konteks dan sejarah bukan lagi tak memiliki makna hanya karena aku tak memilin kembali puisi. Aku kehilangan gelombang gelora untuk menganyam kata-kata. Bukan aku tak lagi mencintai aksara hanya saja aku kehilangan jiwa untuk meraih imajinasi. Kini aku hanya mampu berdoa dalam hati dan semoga itu semua menjadi puisi yang tak mati. Aku yakini dalam kognisi bahwa doa yang kuhanturkan menggelantung diantara jendela nirwana.

Aku tak lagi pening oleh dosa-dosa masa lalu, karena kini kutahu dosa-dosa itu adalah aku sendiri. Dosa-dosa itu menjelma kedalam mimpi dan menjadi mahluk indah layak bidadari. Dosa-dosa itu lahir dari ketiadaan makna. Dosa-dosa itu kembali mengkritisi benakku  yang gamang. Kurengkuh telak dosa-dosa itu, kucium penuh nafsu. Dosa-dosa itu menjadi sahabat ku dikeheningan senja. Dosa-dosa itu menjadi pelipur laraku yang tak pernah ada habisnya. Dosa-dosa itu menjadi keimananku kepada rahmat Yang Maha Esa. Kuharap dosa-dosa itu kembali lagi untuk mengingatkanku kepada Nya.

intermezzo tanya

Begitu banyak pertanyaan bergelayut dibenak. Aku tak pernah tahu kapan akan berakhir segala skeptisisme ini. Keraguanku terus membuncah, entah karena apa. Aku seakan ingin menghilang menyelusup melesat keudara, ke angkasa. Bumi tak lagi menjadi tempat yang aman untuk menjawab segala pertanyaan seperkian detik bumi akan melebur bersama debu deru semesta. Mengapa segala agama hadir didunia? Apa yang akan datang setelah kematian tiba? Aku tak ingin melangkah melalang buana mencari jawaban ku kesana kemari karena ku tahu itu akan sia-sia. Aku ingin sebuah intisari dari kehidupan. Aku ingin tahu mengapa kehidupan ini pantas untuk dijalani? Aku ingin tahu surga seperti apa, Neraka yang seperti apa yang seharusnya ada dibumi. Kehadiranku tak menggemingkan semesta, bukan suka ria bukan sebuah perayaan.

Imajinasi menjadi obat penenang, imajinasi menjadi sahabat setia. Aku tak pernah mengenal manusia diluarku, manusia lain diluar sana. Manusia yang kutahu hanya manusia yang kufahami bukan manusia yang seutuhnya. Lingkungan diluarku hanya postulat-postulat rekaanku belaka bukan aksioma. Aku terus menenangkan jiwaku dengan segala hipotesa. Aku ingin pertanyaanku terjawab, aku ingin mengerti kehadiranku didunia. Aku mencari, menelaah walau tak pasti.

Aku seakan mahluk tanpa bentuk, tak berisi. Bukan puisi bahkan bukan sepi, bukan api bahkan bukan duri. Segelas coklat panas atau bergalon alkohol tak meredakan sungsang lahir pertanyaan. Bumi seakan tak bulat namun bergejolak bagai bara. Kepala lagi-lagi mencuatkan pertanyaan, pertanyaan yang tak diinginkan. Aku tahu ini bukan rasa sakit, bukan frustasi bukan despresi, aku tahu ini naluri. Keheningan menyerebak dan lagu bisu pun terasa biru. Saat segala indera ku terjawantahkan pun fikirku mati. Aku ingin inderaku menggeliat dan pertanyaan pun pupuh, namun aku tak pernah “ada” untuk itu,

intermezzo khayal

Tak banyak yang bisa dikenang walau jutaan detik telah berlalu, bukan sebuah penyesalan yang hadir namun berterimakasih pada setiap rentang waktu yang dapat dikenang. Sepajang aku melewati masa kecil tanpa ada rintang yang berarti. Setiap aku pulang kerumah selalu ada senyum pencerahan dari ibu. Entah dengan kesalahan saat bermain diluar atau mendapat nilai nol disekolah aku selalu menyelesup kedalam imajinasiku saat ibu marah. Aku selalu pergi melalang buana dengan daya khayalku yang luar biasa hingga kini aku tetap selalu berbicara dan bercerita didalam hati  dengan diriku sendiri.

Warna-warna yang berjingkrakan saat bunyi-bunyian bernyanyi ditelingaku atau nada-nada yang terlantun saat peristiwa bergerak didepan mataku aku selalu menambahkan imajinasi disetiap indraku terstimulus seperti imbuhan dikata yang tidak diperlukan. Aku tak pernah ingin mengukapkan imajinasiku pada dunia karena itu sebuah sakramen sakral yang kumiliki sendiri.

Aku kini disini menjadi diriku sendiri karena kehendakku untuk terus berimajinasi atas segala sesuatu yang menimpaku, baik dan buruknya kehidupan memelukku erat. Entah dengan cara apalagi apa mampu bertahan dikehidupan ini jika tanpa imajinasi. Aku terus berkhayal dan akan tetap terus berkhayal entah apapun yang ingin berusaha menghentikanku. Tak pernah ada yang terganggu atas imajinasiku kecuali ibuku karena aku dianggap seperti tidak pernah memperhatikannya. Aku seperti memiliki delapan hari dalam seminggu dan ratusan ribu dalam sebulan untuk berada dalam dunia khayalku, didalam kepalaku aku tak pernah memiliki satuan ruang dan waktu. Aku tak pernah perduli bagaimana dunia ini berputar selama aku memiliki imajinasi. Sering kali aku berimajinasi jika dunia ini memang tak berputar namun berjalan dengan semesta sebagai jalannya.

Didalam kepala seakan aku memiliki sebuah teater yang tak pernah mati atau konser yang tak pernah padam. Sebuah petualangan yang tiketnya hanya memejamkan mata dan tak berkata apa-apa lagi. Mari kita khayalkan sebuah dunia yang tak pernah kita temui. Dan disanalah sebenarnya kita hidup. Aku berkhayal demi kelangsungan hidupku didunia yang nyata dan realita yang menyedihkan. Aku tak mencari bayangan untuk berlindung dari nyata pada imajinasi namun aku hanya hidup didunia nyata dan mampu untuk melakukan jika aku tetap berimajinasi.

Aku tak menyakini kesalahan pada kenyataan namun tak ada sebuah dunia yang tercipta tanpa imajinasi. Aku tak berusaha menerang filsafat hidupku hanya ingin mengutarakan dimana sebenarnya aku berada. Aku berimajinasi dari kecil dengan menciptakan duniaku sendiri, menokohkan mahluk dalam duniaku. Kukumpulkan segenap tokoh yang ada disetiap film kartun yang kutonton dan komik yang kubaca. Beranjak dewasa aku berkhayal dengan menikahi dan hidup bahagia dengan wanita yang kucintai. Kembali aku berimajinasi melakukan perlawan dengan dunia lewat buku-buku filsafat perlawan yang pernah kubaca. Bertualang dengan menumpang perjalanan dengan cerita novel-novel yang kulahap. Kadang aku membumbuhkan imajinasiku kedalam cerita yang kutangkap agar sesuai dengan setia pada harapanku.

Kini imajinasiku hampir mati, kuharap aku terus tetap menciptakannya kembali. menjadi pahlawan disetiap dunia yang kusimpan didalam kepala dan jiwa. Dunia akan berlalu begitu saja tanpa pernah ada imajinasi yang lahir kedunia. Lewat imajinasi dunia berjalan kini. Kuharap hanya kebaikan saja dari dunia ini yang terlahir lewat imajinasi. Semoga imajinasiku yang kupupuk dari kecil hingga kini tidak sia-sia oleh ketamakanku pada dunia nyata, semoga.

 

keluarga

Senyum dan resah berada didalam keluarga, apakah benar apa yang dikatakan althouser bahwa keluarga adalah intitusi represif pertama? Muncul dan henyap masalah ada dalam keluarga. Apakah benar cinta sejati dalam keluarga? Keluarga begitu besar peranannya dalam masyarakat hingga sastrawan sekaliber Leo Tolstoy pun menuliskannya dalam Anna Karenina. Keluarga tidak selalu dalam sandiwara seperti kita manusia selalu memainkan peran dalam masyarakat dengan menggunakan topeng-topeng untuk berinteraksi. Keluarga adalah cikal bakal manusia akan seperti apa nantinya menurut psikolanalisis Freudian.

Keluarga tidak selalu bercahaya kadang terpecah, kadang retak, kadang lemah. Keluarga tidak juga selalu gelap kadang selalu dapat dipercaya, kadang selalu dicintai, kadang penuh kehangatan. Mario Puzo pun menuliskan sisi terang dan gelap dalam keluarga. Dalam Godfather Mario Puzo  menceritakan bisnis gelap Don Corleon sebagai kepala keluarga namun juga menyiratkan kesetian anggota keluarga. Mario Puzo menggambarkan keluarga  adalah segalanya dari segala sisinya.

Keluarga mencintai dengan caranya masing-masing, dengan pendidikan, dengan tradisi atau dengan norma. Menjadi manusia entah bagaimana kita mempunyai hasrat untuk memiliki keluarga, untuk tidak sendirian didunia, mungkin para ilmuwan tahu mengapa sebabnya. Entah dalam sel apa dikepala kita untuk ingin terus berada dalam satu stuktur keluarga, dalam kehangatan cinta kasih yang selalu sama. Keluarga tidak hanya berfungsi untuk cinta dan loyalitas buta, keluarga lebih dari pada itu semua. Besar kecilnya keluarga, tenang gemuruhnya keluarga kita semua ingin memilikinya.

Dalam kehidupan post-modernisme kini kita diajarkan untuk mencari eksistensi diri kita sendiri. Tanpa harus terhegemoni oleh sosiopolitik, oleh orientalisme atau oleh kapitalisme. Namun dengan ambisi manusia ingin terus mandiri dan indipenden kita masih terus menginginkan keluarga. Entah dengan atau untuk apa kita berusaha untuk indipenden namun kita tetap memiliki hasrat untuk memiliki keluarga. Keberandaan keluarga tidak hanya untuk stabilitas sosial atau sebagai fakta sosial durkhemian namun juga tempat dimana kita bisa menyeimbangakan absurditas kita akan dunia. Keluarga menjadi tempat melelapkan lelah walau kadang tidak selalu menyelesaikan masalah bahkan terkadang menciptakan malapetaka. Budaya pun diturunkan lewat keluarga sebuah essensi dari kehidupan manusia.

Terkadang kita memiliki keluarga awal yang tak begitu menyenangkan namun kita masih memiliki hasrat untuk berkeluarga lewat keluarga baru yang kita ciptakan kelak. Keluarga bahkan seringkali menjadi tujuan dari sebuah cita-cita. Menjadi sebuah akhir kata seberapa modernnya diri kita, sebagaimana mungkin kita mandiri kita selalu membutuhkan keluarga. Entah dengan cara apa, entah dengan siapa.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.