diantara bening udara perbukitan sebuah desa tersapu malu didalamnya. Ada berbagai kenangan yang patut untuk dibagi. Tidak hanya tentang kelebampan dan dinginnya udara yang menusuk namun juga sejarah yang menyeruak hingga kedalam sumsum budaya, ekonomi, politik dan agama. Sebuah desa duapuluh empat kilometer dari kabupaten bandung. Desa citalahap, membuihkan kehikmatan dalam kehidupan. Desa yang menjadi pusat pertanian strawberry, buah yang acap kali dilambangkan atas kelembutan, manis kadangpula simbolisasi atas rasa nyaman. Desa yang hening dikala pagi, siang, petang maupun malam. Desa yang begitu harmoni mengikuti alur alam. Desa yang dikabarkan oleh kitab suci sebagai surga : air yang terus mengalir, tanah yang begitu subur, udara yang begitu sejuk serta senyum ramah yang selalu menghiasi wajah para penghuninya. Ditengah keserasian alam yang menyelimuti desa citalahap ada berbagai kisah yang kompleks, yang sarat akan makna, yang penuh akan tanya.
Didesa citalahap minim ruangan yang menghimpit, segala sesuatunya menjadi luas, menjadi lapang. Sawah yang berbukit, hutan yang megah dan rumah-rumah yang sederhana mencipta ketenangan batin. Saat kaki menjejak kita akan disapa oleh masjid yang dibangun begitu sederhana, sesederhana ambisi para jamaahnya yang khusyuk menikmati surga mereka. Dan salam hangat pun mulai merengkuh, para warganya menyapa seakan tamu adalah sahabat lama yang lama tak bertemu. Dihalaman masjid anak-anak berlari menyibakan alam imajinasi mereka, bermain dalam tawa dan suka yang sulit kita dapat diantara penjuru kota. Saat berada ditengah warga kita mampu merasakan sebuah kehangatan keluarga, tamu diterima dengan cinta.
Sulit untuk melepaskan keromantisan ini untuk mengenang desa citalahap yang indah itu. Aku sendiri tak mampu mempertahankan diri atas kemelankolisan yang meradang untuk meninggalkan desa yang kerap dikunjungin para pelajar itu. Bukannya aku tak ingin pulang namun desa itu sama tentramnya dengan rumah. Mungkin desa itu memang sebuah rumah, rumah bagi para pengembara yang resah. Suatu saat nanti bila aku memiliki kesempatan untuk kembali aku tak akan menamakannya “pergi” akan ku namakan “pulang” ke citalahap. Aku ingin sudahi segala hasrat emosi dan afeksi aku harus teguh pada kognisi dan logika. Karena jika aku terus mendayun antara kata-kata mengukapkan rasa “mereka” akan berkata aku bukan peneliti, aku subjektif dan catatan perjalanan ini tidak akan diakui. Sayang sekali aku tak perduli aku tetap dengan demensi ku sendiri, karena menurutku ke-valid-an data bukan terletak pada kreteria bahasa namun pada objektivitas untuk mengukapkan apa yang sebenarnya ada.
Seperti yang sudah kukatakan desa citalahap adalah desa yang indah, dan kelemahanku sebagai pencatatan perjalanan aku tak mampu mendeskripsikan demensi ruang dan waktu secara ilmiah. Dan memang cukup diketahui bahwa desa ini indah. Tak perlu penjabaran lanjut untuk melukiskannya. Desa citalahap memiliki seorang sesepuh, ia adalah orang yang paling dituakan, yang paling dihormati. Pak kayan sobandi namanya usianya sudah tujuhpuluh tahun. Pak kayan adalah seorang petani sayuran dan strawberry. Perawakannya sangat sederhana dan pembawaan yang sangat tenang, tutur kata beliau sangat lembut dan beliau juga sangat rendah hati. Kediaman beliau pun sederhana, beliau memiliki seorang istri ibu mumu biasa dipanggilnya, ibu mumu berkali-kali memohon maaf karena saat ini beliau tidak bisa menjamu karena sedang merawat ibunda beliau yang sedang sakit. Permohonan maaf yang tidak seharusnya diterima ini menyiratkan betapa warga desa citalahap begitu sangat rendah hati dan memiliki sisi kemanusiaan yang begitu menawan. Pak kayan memiliki sepuluh anak, lima anak lelaki dan lima anak perempuan. Ia juga telah memiliki tiga puluh tiga cucu dan dua orang cicit. Dua cucu perempuannya telah memasuki jenjang universitas dibandung. Keduanya berkuliah di universitas pendidikan Indonesia dan universitas islam bandung. Pak kayan bercerita walaupun keduanya lulusan pesantren namun juga dapat menuruskan pendidikan hinggan jenjang universitas. Cucunya yang berkuliah di universitas pendidikan Indonesia belajar Psikologi pendidikan sedangkan cucunya yang berkuliah diuniversitas islam Indonesia belajar dijurusan ilmu tarbiyah.
citalahap sistem keagamaan hampir seluruhnya termasuk kedalam organisasi keagamaan Persatuan Islam yang disingkat Persis. Persis ini menjadi darah keagamaan didesa citalahap, hampir seluruh warga desa citalahap adalah jamaah Persis. Pak kayan bercerita tentang bagimana citalahap hingga menjadi salah satu cabang dari organisasi islam Persis yang berpusat dikota bandung. Pak kayan bercerita bahwa pada tahun 1965 setelah terjadi peristiwa G30/S/PKI dijakarta seorang ustad yang bernama Umar Usama yang berasal dari aceh menyebarkan ajaran Persis didesa citalahap. Ustad Umar Usman pada saat itu bertugas sebagai pegawai Dapartement Agama dikota bandung. Pak kayan menurut penuturannya adalah salah satu warga desa citalahap yang pertama kali mengikuti ajaran Persis tersebut bersama kakak dan adiknya yang kini telah meninggal dunia. Ajaran Persis yang mengutamakan Al-Quran dan Hadist sebagai pusat ajarannya melarang para jamaahnya untuk melakukan ritual-ritual yang berasal dari nenek moyang tutur Pak kayan. Pada saat Persis belum masuk kedesa citalahap masih banyak warga desa yang melakukan ritual untuk persembahan agar sawahnya menjadi lebih subur. Menurut penuturan Pak Kayan desa citalahap memiliki banyak dukun dan paranormal. Ayah dari pak kayan sendiri adalah seorang dukun. Pak kayan sendiri pernah memiliki kepercayaan pada hal-hal spiritual diluar sistem keagamaan islam tersebut. Seiring berjalannya waktu seluruh warga desa citalahap menjadi jamaah dari Persis. Walaupun sudah lama Persis masuk kedalam desa citalahap namun baru dua tahun terakhir desa tersebut menjadi cabang resmi, kini ketua dari cabang Persis desa citalahap adalah Bapak Didid Mujadid.
Pak kayan menerangkan tentang struktur keanggotaan dari Persis. Persis memiliki lima cabang otonom, yakni Persistri yaitu adalah Persatuan islam Istri (Istri disini adalah konotasi dari Perempuan), Pemuda Persis, Pemudi Persis, Himpunan mahasiswa Persis, dan Himpunan mahasiswi Persis. Pak kayan berkata bahwa baru lima puluh lima orang yang menjadi anggota persis sedangkan warga lainnya hanya jamaah yang mengikuti ajaran Persis. Setiap anggota Persis diwajibkan untuk membayar iuran sepuluh ribu rupiah per bulan sebagai dana kolektif jika ada keperluan yang kolektif yang mendadak, seperti untuk anggota yang sakit atau terkena musibah, atau dana untuk sumbang yang lainnya.
Dari penuturan Pak Kayan aku mencoba menghipotesa skema masyarakat desa citalahap. Kultur atau kearifan lokal sunda didesa citalahap punah seiring semakin kuatnya ajaran persis didesa tersebut. Tak sengaja aku menjadi curiga akan adanya sejarah konspirasi orde baru pada waktu itu. Kecurigaanku berasal dari tahun hadirnya Persis didesa citalahap, mungkin pada waktu itu Persis sengaja dimasukkan pemerintah agar terhindar dari PKI karena pada saat itu kearifan lokal masih berjalan kuat didesa citalahap. Untuk kecurigaanku yang kedua adalah mungkinkah Persis sengaja dihadirkan didalam desa citalahap oleh para tetua desa pada waktu itu untuk menghindar dari tuduhan pemerintah keterkaitan desa dengan PKI yang mengincar masyarakat dengan kearifan lokal yang kuat. Kecurigaan-kecurigaan tersebut tak terjawab hingga akhirnya akupun harus meninggal desa citalahap.
Desa citalahap yang memiliki sumberdaya alam yang bagaikan surga, menjadi pemasok utama strawberry keseluruh Indonesia. Yang menjadi menarik adalah ketika strata ekonomi warga desa berbeda-beda ,walaupun penduduk desa tidak menunjuk secara langsung perbedaan tersebut. Warga desa yang menjadi distributor lebih memiliki tingkatan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan para petani. Tingkatan ini sangat menarik karena hal ini didasar oleh beragamnya motivasi kehidupan warga desa citalahap. Perbedaan kuantinitas dan transformasi ekonomi lebih banyak didasari oleh motivasi kehidupan. Perkembangannya ketika para warga muda mulai menjual hasil pertanian secara mandiri. Dapat dicontohkan lewat penuturan Pak Ridwan yang menjadi distributor strawberry sejak tahun 1997 hingga kini. Pak Ridwan yang baru berusia tiga puluh tujuh tahun telah mendistribusikan strawberry keberbagai penjuru nusantara, ia baru memiliki dua orang putri yang masing-masing berusia enam dan tiga tahun. Pak Ridwan bercerita pertama kali ia mencoba menjajaki bisnis strawberry ini ia bergabung dengan keluarganya ia menjadi penjual dalam proses perniagaan keluargannya. Sejak ia menikah ia memutuskan untuk mendirikan usahanya sendiri untuk menghidupi keluarganya. Usaha berkembang dengan pesat kini setiap harinya ia mendistribusikan strawberry setidaknya ke tigapuluh supermarket diseluruh kota bandung. Ia juga mengirim strawberry hingga Aceh dan Papua. Dua bulan terakhir sebelum kedatangan ku desa citalahap Pak Ridwan sedang mencoba dengan bisnis sayuran yang menurutnya sangat fluktuatif dan sangat tergantung dengan pasar. Pak Ridwan yang biasa berbisnis strawberry yang relatif memiliki harga yang stabil dengan bisnis sayuran ia harus pandai untuk menerka permintaan pasar dan pemasokan komoditi. Ia pun harus lebih ketat menentukan harga karena sayuran jauh lebih cepat busuk daripada strawberry yang cenderung lebih awet dua hingga tiga hari.
Pak Ridwan telah memiliki penghargaan atas prestasinya mempersentasikan hasil tanamnya pada salah satu lembaga pertanian swasta. Pak Ridwan walaupun seorang distributor ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai pertanian ia mengetahui bagaimana sampah dan limbah dapat dibuatnya sebagai kompos. Ia pun pernah menguji coba tanah yang ia meliki dengan melihat kadar keasaman Ph tanah tersebut. Pengetahuan tani yang ia miliki didapat secara otodidak dengan hanya membaca buku-buku pertanian yang berserak ditoko buku. Hemat ku kelebihan dari Pak Ridwan ialah ia ingin terus belajar dan motivasi kehidupannya lebih progresif dibandingkan dengan warga lainnya yang berprofesi sebagai petani.
Berbeda dengan Pak Ridwan, Pak Yana salah seorang warga yang juga seorang distributor pak yana tidak hanya bergerak pada bidang pertanian ia juga bergerak pada bidang souvernir dan konveksi. Pak Yana berawal dengan menjual bantal yang bermotif strawberry sebagai souvernir didaerah situ patenggang dan kawah putih sebuah daerah wisata, di ujung ciwidey. Pak Yana yang awalnya berkerja dengan berbagai profesi, ia pernah menjadi penjual makanan, penjual sirsak, kuli, supir angkutan umum. Kini ia telah memeliki perekonomian yang cenderung stabil dan memuaskan. Pak yana yang memiliki empat orang anak, anak sulungnya baru kelas tiga madrasah tsanawiyah yang setara dengan sekolah menengah pertama. Pak yana kini tidak hanya menjual bantal namun juga sandal, gantungan kunci, dan berbagai souvernir lainnya yang bermotif strawberry keberbagai stand dan toko dikota bandung. Tak hanya itu Pak Yana juga telah diliput oleh salah satu stasiun televisi swasta kerena pengembang souvernir bantal bermotif strawberry yang pertama.
Pak Yana pun menuturkan pengalamannya sebagai penjual souvernir bantal maupun sebagai distributor strawberry. Ia telah pergi keberbagai belahan nusantara, ia bercerita pernah pergi jakarta untuk mengantarkan bantal ke mangga dua, Jakarta sedangkan ia tidak pernah ke Jakarta sebelumnya hingga akhirnya ia nekat namun akhirnya ia pulang dan pergi ke Jakarta dengan selamat. Ia pun pernah ke Pontianak selama beberapa bulan. Selama dipontianak ia telah tertipu oleh salah seorang anak buahnya. Ia bercerita saat dipontianak ia bertemu seorang jawa yang sedang kesusahan lalu ia membantunya, memberikan makan dan mencarikan tempat tinggal. Selama beberapa bulan orang tersebut sangat jujur dan dapat dipercaya namun suatu ketika ia pergi ke singkawang untuk keperluan bisnis ditengah perjalanan pak yana diberi minum hingga tidak sadar diri dan uang yang ia bawa senilai empat belas juta rupiah raib bersama orang tersebut. Kini pak yana telah memiliki omzet setidaknya delapan hingga sepuluh juta per bulan untuk pemasukkan atas souvernir strawberry atau buah strawberry. Pemasukkannya yang berasal dari souvernir strawberry berkurang dengan semakin banyaknya yang juga berjual souvernir yang sama. Sedangankan untuk buah segar strawberry Pak Yana baru menjalaninya selama dua tahun terakhir. Usaha konveksinya pun berkembang, berbagai kegiatan usahanya dibantu oleh istrinya yang biasa dipanggil Teh Hani. Teh Hani bersama beberapa keluarganya ikut serta menjalankan usaha yang dirintis oleh Pak Yana. Kepribadian yang sederhana dan bijak membuat orang yang tak mengenalnya akan tidak mengira ia adalah seorang pengusaha yang sukses didesanya.
Salah seorang distributor lainnya adalah Pak Asep, ia adalah seorang ketua rukun warga didesa citalahap, maka ia biasa dipanggil Pak Rw. Pak Rw pun seorang penguasaha yang sukses, unit kewirausahaanya adalah komoditi seledri dan daun bawang. Ia setiap harinya ia menjual berkilo-kilo seledri dan daun bawang tak jarang ia menjualnya hingga berkwintal-kwintal. Sebagai seorang Rw ia cukup menarik selain ia seorang yang terbilang sukses didesanya ia juga sangat rendah hati dan berpringai ramah. Ia menawarkan segala bantuan selama didesa itu. Pak Rw ini tersebut bercerita bahwa untuk menjadi seorang pemimpin didesa cukup sulit, ia menjadi seorang Rw karena sudah tidak ada lagi warga yang ingin menjadi seorang ketua rukun warga maka ia secara terpaksa menjadi seorang ketua rukun warga. Menurutnya menjadi seorang pemimpin disebuah desa lebih dijadikan sebagai wadah untuk beribadah dari pada untuk merenguk keuntungan seperti dikota. Pak Rw pula yang bercerita bahwa mengapa desa citalahap ini sangat subur dan air yang terus mengalir. Pak Rw bercerita bahwa desa citalahap ini memiliki banyak mata air, yang berasal dari bukit. Mata air yang terus mengalir ini dimanfaatkan oleh warga sebagai kolam ikan air tawar. Pak Ridwan, Pak Yana dan Pak Rw memiliki kolam ikan sebagai hobi. Pak Kayan Pun merawat kolam ikan yang berada divilla orang Jakarta yang ia rawat.
Desa citalahap tidak hanya sebuah desa yang henyap dari hiruk pikuk kebisingan kota, namun juga menjadi sebuah muara yang melenyapkan rasa gamang akan busuknya dunia, sebagai oase penenang batin yang kerap berbicara tanpa makna. Desa citalahap yang seakan hening oleh pengaruh globalisasi, terkukung diantara bukitnya, nyatanya ia, desa citalahap menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dalam sektor pertanian. Para warganya tidak hanya mengandalkan sumberdaya alam yang melimpah namun juga dengan kreativitas, dengan kerja keras, tanpa ambisi yang menggebu memperlihatkan tanpa harus bermigrasi kekota mereka dapat sukses ditempat kelahiran mereka, yang mereka cintai. Dengan panorama yang mempesona, dengan sumberdaya alam yang tak ada habisnya, dengan warga yang ramah dan taat beragama, desa citalahap menjadi penenang diantara muram durja dunia.