keluarga
Senyum dan resah berada didalam keluarga, apakah benar apa yang dikatakan althouser bahwa keluarga adalah intitusi represif pertama? Muncul dan henyap masalah ada dalam keluarga. Apakah benar cinta sejati dalam keluarga? Keluarga begitu besar peranannya dalam masyarakat hingga sastrawan sekaliber Leo Tolstoy pun menuliskannya dalam Anna Karenina. Keluarga tidak selalu dalam sandiwara seperti kita manusia selalu memainkan peran dalam masyarakat dengan menggunakan topeng-topeng untuk berinteraksi. Keluarga adalah cikal bakal manusia akan seperti apa nantinya menurut psikolanalisis Freudian.
Keluarga tidak selalu bercahaya kadang terpecah, kadang retak, kadang lemah. Keluarga tidak juga selalu gelap kadang selalu dapat dipercaya, kadang selalu dicintai, kadang penuh kehangatan. Mario Puzo pun menuliskan sisi terang dan gelap dalam keluarga. Dalam Godfather Mario Puzo menceritakan bisnis gelap Don Corleon sebagai kepala keluarga namun juga menyiratkan kesetian anggota keluarga. Mario Puzo menggambarkan keluarga adalah segalanya dari segala sisinya.
Keluarga mencintai dengan caranya masing-masing, dengan pendidikan, dengan tradisi atau dengan norma. Menjadi manusia entah bagaimana kita mempunyai hasrat untuk memiliki keluarga, untuk tidak sendirian didunia, mungkin para ilmuwan tahu mengapa sebabnya. Entah dalam sel apa dikepala kita untuk ingin terus berada dalam satu stuktur keluarga, dalam kehangatan cinta kasih yang selalu sama. Keluarga tidak hanya berfungsi untuk cinta dan loyalitas buta, keluarga lebih dari pada itu semua. Besar kecilnya keluarga, tenang gemuruhnya keluarga kita semua ingin memilikinya.
Dalam kehidupan post-modernisme kini kita diajarkan untuk mencari eksistensi diri kita sendiri. Tanpa harus terhegemoni oleh sosiopolitik, oleh orientalisme atau oleh kapitalisme. Namun dengan ambisi manusia ingin terus mandiri dan indipenden kita masih terus menginginkan keluarga. Entah dengan atau untuk apa kita berusaha untuk indipenden namun kita tetap memiliki hasrat untuk memiliki keluarga. Keberandaan keluarga tidak hanya untuk stabilitas sosial atau sebagai fakta sosial durkhemian namun juga tempat dimana kita bisa menyeimbangakan absurditas kita akan dunia. Keluarga menjadi tempat melelapkan lelah walau kadang tidak selalu menyelesaikan masalah bahkan terkadang menciptakan malapetaka. Budaya pun diturunkan lewat keluarga sebuah essensi dari kehidupan manusia.
Terkadang kita memiliki keluarga awal yang tak begitu menyenangkan namun kita masih memiliki hasrat untuk berkeluarga lewat keluarga baru yang kita ciptakan kelak. Keluarga bahkan seringkali menjadi tujuan dari sebuah cita-cita. Menjadi sebuah akhir kata seberapa modernnya diri kita, sebagaimana mungkin kita mandiri kita selalu membutuhkan keluarga. Entah dengan cara apa, entah dengan siapa.
Belum ada trackback.