intermezzo khayal
Tak banyak yang bisa dikenang walau jutaan detik telah berlalu, bukan sebuah penyesalan yang hadir namun berterimakasih pada setiap rentang waktu yang dapat dikenang. Sepajang aku melewati masa kecil tanpa ada rintang yang berarti. Setiap aku pulang kerumah selalu ada senyum pencerahan dari ibu. Entah dengan kesalahan saat bermain diluar atau mendapat nilai nol disekolah aku selalu menyelesup kedalam imajinasiku saat ibu marah. Aku selalu pergi melalang buana dengan daya khayalku yang luar biasa hingga kini aku tetap selalu berbicara dan bercerita didalam hatiĀ dengan diriku sendiri.
Warna-warna yang berjingkrakan saat bunyi-bunyian bernyanyi ditelingaku atau nada-nada yang terlantun saat peristiwa bergerak didepan mataku aku selalu menambahkan imajinasi disetiap indraku terstimulus seperti imbuhan dikata yang tidak diperlukan. Aku tak pernah ingin mengukapkan imajinasiku pada dunia karena itu sebuah sakramen sakral yang kumiliki sendiri.
Aku kini disini menjadi diriku sendiri karena kehendakku untuk terus berimajinasi atas segala sesuatu yang menimpaku, baik dan buruknya kehidupan memelukku erat. Entah dengan cara apalagi apa mampu bertahan dikehidupan ini jika tanpa imajinasi. Aku terus berkhayal dan akan tetap terus berkhayal entah apapun yang ingin berusaha menghentikanku. Tak pernah ada yang terganggu atas imajinasiku kecuali ibuku karena aku dianggap seperti tidak pernah memperhatikannya. Aku seperti memiliki delapan hari dalam seminggu dan ratusan ribu dalam sebulan untuk berada dalam dunia khayalku, didalam kepalaku aku tak pernah memiliki satuan ruang dan waktu. Aku tak pernah perduli bagaimana dunia ini berputar selama aku memiliki imajinasi. Sering kali aku berimajinasi jika dunia ini memang tak berputar namun berjalan dengan semesta sebagai jalannya.
Didalam kepala seakan aku memiliki sebuah teater yang tak pernah mati atau konser yang tak pernah padam. Sebuah petualangan yang tiketnya hanya memejamkan mata dan tak berkata apa-apa lagi. Mari kita khayalkan sebuah dunia yang tak pernah kita temui. Dan disanalah sebenarnya kita hidup. Aku berkhayal demi kelangsungan hidupku didunia yang nyata dan realita yang menyedihkan. Aku tak mencari bayangan untuk berlindung dari nyata pada imajinasi namun aku hanya hidup didunia nyata dan mampu untuk melakukan jika aku tetap berimajinasi.
Aku tak menyakini kesalahan pada kenyataan namun tak ada sebuah dunia yang tercipta tanpa imajinasi. Aku tak berusaha menerang filsafat hidupku hanya ingin mengutarakan dimana sebenarnya aku berada. Aku berimajinasi dari kecil dengan menciptakan duniaku sendiri, menokohkan mahluk dalam duniaku. Kukumpulkan segenap tokoh yang ada disetiap film kartun yang kutonton dan komik yang kubaca. Beranjak dewasa aku berkhayal dengan menikahi dan hidup bahagia dengan wanita yang kucintai. Kembali aku berimajinasi melakukan perlawan dengan dunia lewat buku-buku filsafat perlawan yang pernah kubaca. Bertualang dengan menumpang perjalanan dengan cerita novel-novel yang kulahap. Kadang aku membumbuhkan imajinasiku kedalam cerita yang kutangkap agar sesuai dengan setia pada harapanku.
Kini imajinasiku hampir mati, kuharap aku terus tetap menciptakannya kembali. menjadi pahlawan disetiap dunia yang kusimpan didalam kepala dan jiwa. Dunia akan berlalu begitu saja tanpa pernah ada imajinasi yang lahir kedunia. Lewat imajinasi dunia berjalan kini. Kuharap hanya kebaikan saja dari dunia ini yang terlahir lewat imajinasi. Semoga imajinasiku yang kupupuk dari kecil hingga kini tidak sia-sia oleh ketamakanku pada dunia nyata, semoga.
Belum ada trackback.