intermezzo kembali
Aku tak lagi ingin menentang kesepianku, aku tak ingin lagi jengah akan kesendirianku. Ku terima dengan segala dosa yang pernah kucipta. Aku hanya ingin berkerja, berkerja demi keabadiaan. Aku tak ingin lagi kehilangan akal budi, aku tak lagi sanggup untuk murka pada apapun yang terjadi dibumi. Atas segala hal yang pernah manusia perbuat dalam hidup, aku tak lagi mencibir. Kuserap dengan logika yang tak patah-patah. Aku tak ingin lagi kalah pada sejarah, setiap gerak yang kiniku luapkan hanya untuk masa depan, masa depan yang tak pernah ada habisnya.
Kini aku tak lagi mempunyai waktu untuk mendistribusikan luka. Aku hanya tak ingin kehilangan arah yang pernah kucoba untuk terka. Selamat tinggal kenangan dan aku pergi menghilang kembali larut kedalam filsafat kehingan. Aku melihat kereta-kereta menghantar para pengunjung dermaga, lajunya kehilangan arah dan keluar dari jalurnya, hampa mati semesta. Ku pertanyakan kembali untuk apa segalanya ada jika hanya untuk egoisme semata. Kuresap segala luka, tak ada peran yang tak kuresapi, apapun itu. Dan aku pun semakin kehilangan senjata, senjata untuk meraih kemenangan atas surga.
Kembali kurintis jalur-jalur malu ku. Dan segala konteks dan sejarah bukan lagi tak memiliki makna hanya karena aku tak memilin kembali puisi. Aku kehilangan gelombang gelora untuk menganyam kata-kata. Bukan aku tak lagi mencintai aksara hanya saja aku kehilangan jiwa untuk meraih imajinasi. Kini aku hanya mampu berdoa dalam hati dan semoga itu semua menjadi puisi yang tak mati. Aku yakini dalam kognisi bahwa doa yang kuhanturkan menggelantung diantara jendela nirwana.
Aku tak lagi pening oleh dosa-dosa masa lalu, karena kini kutahu dosa-dosa itu adalah aku sendiri. Dosa-dosa itu menjelma kedalam mimpi dan menjadi mahluk indah layak bidadari. Dosa-dosa itu lahir dari ketiadaan makna. Dosa-dosa itu kembali mengkritisi benakku yang gamang. Kurengkuh telak dosa-dosa itu, kucium penuh nafsu. Dosa-dosa itu menjadi sahabat ku dikeheningan senja. Dosa-dosa itu menjadi pelipur laraku yang tak pernah ada habisnya. Dosa-dosa itu menjadi keimananku kepada rahmat Yang Maha Esa. Kuharap dosa-dosa itu kembali lagi untuk mengingatkanku kepada Nya.
Belum ada trackback.