intermezzo tanya
Begitu banyak pertanyaan bergelayut dibenak. Aku tak pernah tahu kapan akan berakhir segala skeptisisme ini. Keraguanku terus membuncah, entah karena apa. Aku seakan ingin menghilang menyelusup melesat keudara, ke angkasa. Bumi tak lagi menjadi tempat yang aman untuk menjawab segala pertanyaan seperkian detik bumi akan melebur bersama debu deru semesta. Mengapa segala agama hadir didunia? Apa yang akan datang setelah kematian tiba? Aku tak ingin melangkah melalang buana mencari jawaban ku kesana kemari karena ku tahu itu akan sia-sia. Aku ingin sebuah intisari dari kehidupan. Aku ingin tahu mengapa kehidupan ini pantas untuk dijalani? Aku ingin tahu surga seperti apa, Neraka yang seperti apa yang seharusnya ada dibumi. Kehadiranku tak menggemingkan semesta, bukan suka ria bukan sebuah perayaan.
Imajinasi menjadi obat penenang, imajinasi menjadi sahabat setia. Aku tak pernah mengenal manusia diluarku, manusia lain diluar sana. Manusia yang kutahu hanya manusia yang kufahami bukan manusia yang seutuhnya. Lingkungan diluarku hanya postulat-postulat rekaanku belaka bukan aksioma. Aku terus menenangkan jiwaku dengan segala hipotesa. Aku ingin pertanyaanku terjawab, aku ingin mengerti kehadiranku didunia. Aku mencari, menelaah walau tak pasti.
Aku seakan mahluk tanpa bentuk, tak berisi. Bukan puisi bahkan bukan sepi, bukan api bahkan bukan duri. Segelas coklat panas atau bergalon alkohol tak meredakan sungsang lahir pertanyaan. Bumi seakan tak bulat namun bergejolak bagai bara. Kepala lagi-lagi mencuatkan pertanyaan, pertanyaan yang tak diinginkan. Aku tahu ini bukan rasa sakit, bukan frustasi bukan despresi, aku tahu ini naluri. Keheningan menyerebak dan lagu bisu pun terasa biru. Saat segala indera ku terjawantahkan pun fikirku mati. Aku ingin inderaku menggeliat dan pertanyaan pun pupuh, namun aku tak pernah “ada” untuk itu,
Belum ada trackback.