jakarta
Dan nyata hidup hanya tentang tinggi menjulang lalu merengguk mati. Menyisakan renungan pagi yang tak pernah berhenti. Belakangan terakhir ini saya meresapi betapa kota yang saya tinggali bukan selayaknya kota halaman. Kota saya dipinggir ibukota, kota saya jauh lebih baik dari pada ibukota sekalipun menjadi kota terkotor diseluruh nusantara. Mengapa? Nyatanya saya jauh lebih betah berada dikota saya dari pada harus ke ibukota walaupun hanya sepersekian detik saja. Belakangan ini saya sering mampir sebentar ke ibukota jangan tanya mengapa, karena saya tak cukup berani untuk mengutarakannya.
Ibu kota yang dinamakan Jakarta ini sudah hampir berumur tigaratusan tahun selama ingatan saya. Ingatan yang ditanam oleh berbagai media. Kota Jakarta dalam prepepsi saya adalah kota peluh. Kota yang haus akan keringat, tak perduli betapa lelahnya para warga, kota itu tak jemu untuk terus menghirup saripati kehidupan warganya. Bisa dibayangkan betapa banyak jalanan yang macet, trotoar yang penuh, dan duka cita didalam kendaraan umum yang selalu membayangi kota Jakarta. Kota yang setiap tahunnya mengadakan kontes kecantikan untuk warga mudanya, kota yang setiap tahun mengadakan festival untuk kemeriahannya. Kota yang sebelumnya hanya sebuah dermaga kini menjadi metropolitan.
Acap kali saya ditengah hari menjemukkan jalan raya kota Jakarta, jangan tanya alasannya karena saya enggan berbicara tentang itu. Dijalan raya kota Jakarta saya hanya merasakan kepenatan, kelelahan, kegelisahan dan kepala saya penuh akan pertanyaan. Pertanyaan mengapa jalan raya kota Jakarta, yang katanya sebuah kota metropolitan, kota bisnis dan kota yang penuh akan kesibukkan, jalan rayanya harus penuh oleh kendaraan saat jam-jam berkerja? Jika kita uraikan dengan logika, jam sibuk antara 06:00-09:00, dan 16:00-19:00. Jam berangkat kerja atau sekolah masih masuk dalam logika jika jalanan memang penuh, macet. Setelah itu para perkerja dan pelajar berada ditempat kerja atau sekolah. Jalanan seharusnya lebih lenggang. Begitu pula jam pulang antara 16:00-19:00, jam dimana semua para penggiat aktivitas pulang, menuaikan kewajiban jasmani dan rohani untuk beristirahat. Tapi mengapa hampir selalu pagi, siang hingga senja jalan raya kota Jakarta masih selalu dipenuhi kendaraan?
Jangan tanyakan kondisi kota saya, kota yang jorok dan setia pada kemalangannya. Macet hanya sebuah intermezzo dari sebuah perjalanan. Sedang dijakarta mereka, jakartanya para pejabat, pengusaha, selebritis, professional dan lain sebagainya, Jakarta mereka yang miskin, kumuh, dan kelaparan jam-jam yang seharusnya lebih lenggang, masih saja kemacetan melanda. Neraka, mungkin itu sebuah kata yang tepat atau mungkin berlebihan saat kita merepresentasikan sebuah kemacetan. Jam 10:00-14:00 tetap kemacetan merayapi jalanan kota Jakarta. Dengan kebebalan logika saya yang sempit mari kita uraikan kembali, bukankah kendaraan bermotor itu mahal? Mungkin motor bisa diambil dengan murah dengan kredit namun berapa banyak spasial yang digunakan motor roda dua? Jumlah mobil dijakarta mungkin tak sebanyak motor, namun kemacetan tidak hanya selalu disebabkan oleh kendaraan roda dua yang kadang ditumpangin sekeluarga yang jumlahnya empat orang. Saya seorang pengedara motor, saya tidak ingin membela para pengedara motor yang selalu diumpat, dimaki, dicaci oleh pengendara mobil karena membuat jalanan sempit atau menyerobot sembarangan. Saya tak membela pengendara motor yang jumlah kematiaannya lebih banyak daripada pengendara mobil, tidak, saya tidak membela pengendara motor.
Kendaraan roda empat selalu mejajaki jalan kota Jakarta. Saya rasa bukan karena kendaraan umum, tidak seperti bogor atau kota yang saya tinggali karena sepengelihatan saya yang mungkin kabur, jalanan kota Jakarta disesaki oleh kendaraan-kendaraan roda empat yang mewah. Kembali lahir sebentuk pertanyaan untuk apa para pengendara roda empat itu berada dijalan? Bukannya kendaraan roda empat yang mewah itu mahal? Bukannya orang-orang yang mampu membeli kendaraan roda empat yang mewah adalah para pejabat, pengusaha, professional yang pada jam-jam sibuk mereka berada ditempat mereka masing-masing untuk mengatur roda keberlangsungan Negara? Atau setidaknya perut keluarga mereka sendiri. Untuk apa berada dijalan? Terlalu awal untuk pulang, terlalu lambat untuk berangkat. Untuk makan siang? Untuk apa merengguk kelelahan berada dijalan untuk sekedar macet-macetan?
Seharusnya saya tak perlu banyak berfikir tentang ini, bukanya ingin tidak perduli namun saya harus konsentrasi saat mengedari kendaraan roda dua saya. Biarkanlah para pengendara dijalan itu meresapi kepenatan mereka, jika terus fikirkan siapa yang harus membenahi? Apa yang harus dibenahi? Seperti kata peribahasa tua “ibukota lebih kejam daripada ibu tiri”. Mungkin peribahasa itu ada benarnya karena tidak sedikit ibu tiri yang baik, namun ibukota, terlebih ibukota kita tak sedikit pun menyibakkan keramahannya. Dan memang sebaiknya saya harus lebih berhati-hati dan berkonsentrasi saat mampir ke ibukota, saya harus berhenti merenungi hal-hal dijalanan, jangan tanya mengapa karena saya memang malu untuk menyampaikannya.
Belum ada trackback.