Adam dan Hawa

Dahulu saya sering kali diceritakan roman tentang Adam dan Hawa yang hidup disurga. Kini saya mencoba untuk menelisik kembali ingatan-ingatan purba itu. Ketika adam diciptakan ia “kesepian”. Saya mahluk yang diciptakan Tuhan dengan logika, saya mencoba telusuri ini dengan itu. “kesepian” dalam prepepsi saya adalah sebuah rasa melankolia yang tercipta karena kesendirian. Sedangkan Adam hidup disurga bersama malaikat Tuhan, saya diceritakan malaikat Tuhan sangat banyak, tak terhitung jumlahnya katanya. Dengan banyaknya malaikat yang bahkan tak terhitung jumlahnya kenapa Adam harus merasakan kesendirian?

Adam “kesepian” lalu diambil tulang rusuknya maka terciptalah Hawa. Mahluk yang lebih lembut. Mahluk yang menyeimbangkan semesta Adam, mahluk yang disayangin Adam.  Ada dua versi yang saya dengar. Antara Adam dibujuk setan untuk memakan buah khuldi dan Adam yang dibujuk  Hawa untuk memakan buah khuldi. Saya tak tahu mana yang benar namun disetiap versi mereka akhirnya terusir dari surga.

Adam dan Hawa manusia ciptaan Tuhan yang pertama. Mereka sepasang, satu memberikan satu yang lain. Apa yang dilakukan sepasang manusia berada disurga? Disurga, katanya segala ada. Apa pun yang kita inginkan ada. Tak perlu bersusah payah, berpeluh resah, surga entah ia sebuah ruang atau waktu memiliki segalanya. Saat segalanya ada, apa yang harus dilakukan? Kita tak melakukan apapun disurga bukan karena tidak ada apapun seperti penjara, disurga kita tak melakukan apapun karena segalanya ada. Saat segalanya ada, mungkinkah kita memiliki cerita? Sepasang manusia berada disurga dengan segalanya yang ada, tak memiliki cerita. Saat Adam dan Hawa tak memiliki cerita, apakah mereka hanya saling menatap? Tak mengatakan apapun? Apa yang dilakukan sepasang manusia disurga saat tak ada siapa-siapa lagi disana?

Bahwa patut untuk diingat Adam dan Hawa adalah manusia. Mereka memiliki rasa bosan, apakah mereka bosan berada disurga? Bosan, karena tak memiliki cerita apa-apa. Apa yang diberikan satu sama lain jika keduanya memiliki segalanya. Kita, manusia diciptakan Tuhan dengan imajinasi, mari kita imajinasikan Adam dan Hawa tidak tergoda setan untuk memakan buah khuldi, namun mereka memilih untuk turun kedunia karena rasa bosan mereka atas surga. Bosan karena mereka saling mencintai. Cinta sepatutnya bukan segalanya ada. Cinta mengisi kekosongan, cinta bukan hanya rayuan, bukan hanya kata-kata, bukan hanya mawar merah, bukan hanya satu set makan malam romantis, bukan hanya dansa, bukan hanya beradu birahi. Cinta adalah satu memberikan satu yang lain. Apa yang seharusnya dibagi jika bukan cerita? Apakah tidak hampa saat cinta tak memiliki narasi? Dan ya memang cinta tak hanya percakapan, cinta adalah jalinan, cinta ketika satu hati berpaut kepada hati yang lain.

Kita imajinasikan Adam dan Hawa ingin turun kedunia karena ingin memiliki cerita, cerita yang dibagi satu dengan yang lainnya. Adam dan Hawa meminta Tuhan untuk menurukan mereka ke dunia. Tuhan menunjukan  caranya, memakan buah khuldi. Dalam roman Adam  dan Hawa versi ini kita mampu merasakan cinta kasih Tuhan, Tuhan yang berempati pada kesepian Adam dan Ia menciptakan Hawa. Tuhan yang berpengertian hingga keduanya diturunkan ke dunia. Tuhan tanpa wajah garang yang mengusir kedua manusia pertamanya dari surga. Tuhan yang Maha Pengasih, bukan Tuhan yang pencemburu atau pendendam seperti tafsir Tuhan para perusak agama yang menamakan  diri mereka pembela agama. Wajah Tuhan yang Maha penyayang bukan Tuhan yang mirip satpol PP yang suka menggusur.  Betapa rendahnya kedudukan manusia, saat mereka ada dimuka bumi ini sebagai orang-orang yang terusir. Tentu kita tak menginginkan keberadaan diri kita karena kita terusir, kita lebih mengharapkan keberadaan diri kita karena kita memilih.

Saat keduanya turun ke dunia, mereka ditempatkan dibumi. Keduanya bersusah payah saling menghidupi, saling memberikan apa yang mampu mereka berikan satu ke satu lainnya. Hingga tibalah mereka keduanya memiliki cerita, hingga mereka bercakap, mereka berbicara satu ke satu lainnya. Mereka memiliki cerita masing-masing, cerita yang mereka peroleh ketika mereka saling menghidupi, cerita yang mereka dapat ketika berusaha saling memberi. Hingga akhirnya mereka saling berterimakasih, saling mensyukuri keberadaan satu sama lain. Mereka memeluk mesra asmara, lalu beranak pinaklah mereka. Sesuatu yang tak mereka memiliki ketika disurga. Cinta kasih mereka dijalin dengan susah payah, bukan kebahagiaan tanpa batas disurga.  Cinta kasih mereka hadir karena peluh, karena perjuangan.

Itulah roman Adam dan Hawa dalam tataran imajinasi saya. Liar memang namun saya rasa cinta membutuhkan kesabaran dan perjuangan tak melulu kata-kata.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.