intermezzo sebelum 22
Sudah lama saya tak menulis intermezzo hal itu karena berbagai aktivitas dan kontemplasi yang mendekam. Pertama kali menulis intermezzo saya berumur diawal dua puluh tahun. Waktu tak pernah bisa diingkari kini saya sudah hampir menginjak dua puluh dua. Begitu banyak cerita yang terangkum dalam satu waktu. Sebagai manusia saya tak pernah berhenti untuk berfikir dan menyerap segala hal yang terjadi disekeliling saya. Begitu banyak hal terjadi, begitu banyak peristiwa yang menyelinap dicelah-celah ruang dan waktu. Hingga kini pun saya tak pernah mengerti kemana saya harus melangkah. intermezzo ini berawal ketika saya merasa sudah dewasa dan sepatutnya mengerti tentang dunia. Ketika saya merasa harus tahu kemana saya akan melangkah. intermezzo ini lahir dari bergulatan batin, peristiwa yang saya lalui dan berbagai buku yang saya baca.
Seiring waktu begitu banyak yang saya pelajari dari dunia, dari ayat-ayat, dari angin utara, dari mentari pagi maupun dari henyap senja. Saya tak pernah ingin berhenti untuk mengetahui, saya tak pernah ingin berada dalam satu posisi. Saya ingin terus berjalan, berkelindan dengan ilmu, tarik menarik dengan kata-kata. Kini saya sudah menulis walau pun tidak banyak, bukannya saya tidak ingin banyak menulis. Saya tidak banyak menulis bukan karena saya tidak mau namun karena saya memang tidak mampu. Saya menulis intermezzo ini pun disela-sela begitu banyaknya hal yang seharusnya saya selesaikan. Namun apa daya saya tetap harus menulis intermezzo ini hati yang membimbing saya untuk menulis intermezzo ini.
Sedikit dan buruknya tulisan saya mungkin karena ilmu saya memang tidak sebanyak yang seharusnya atau karena bakat saya yang tidak mumpuni namun saya terus menulis walaupun begitu banyak hadangan. Saya menulis bukan karena saya ingin menjadi ‘seseorang’ namun saya menulis karena menulis untuk saya adalah panggilan hati dan dengan menulis saya hidup. Saya lupa kapan saya menulis mungkin dipertengahan sekolah menengah pertama atau sebelumnya saya sudah lupa. Menulis kini sudah menjadi bagian hidup saya seperti layaknya membaca. Tidak bisa saya pungkiri setiap kali jiwa saya merasa rapuh saya menuangkannya lewat kata-kata. Saya pernah bercita-cita menjadi penulis hingga kini pun saya masih bercita-cita untuk menjadi seorang penulis namun berbagai realitas telah saya alami hingga hari ini, hidup begitu fluktuatif sayang sekali saya sebagai manusia yang sederhana terkadang tak mampu menahan gejolak hidup. Dengan begitu banyak hal yang telah saya lewati saya menjadi ragu untuk melangkah, saya belajar dari segala hal yang pernah saya lalui, sebagai manusia saya hanya mampu untuk berusaha entah siapa yang menentukan, tuhan atau semesta. Jalan yang masih panjang ini harus saya lalui entah dengan cara apa, saya tak mungkin lagi lari.
Dengan segala keraguan untuk melangkah saya beruntung saya telah menemukan surga saya. Terimakasih untuk dirinya yang entah mengapa ia tetap berada disisi kiri saya. Saya juga berterimakasih untuk terus diberi kesempatan untuk bernafas dan menghirup udara dunia. Waktu terus berjibaku membuat dunia semakin kecil dan pepat, waktu tak pernah lelah dan kalah ia terus berdetak. Tak begitu dengan ruang, ruang ia mampu kalah oleh sesak dan penuh walau angkasa tak pernah terhitung jaraknya. Sebagai manusia yang hidup dibumi saya mencoba memahami ruang dan waktu, mereka berdua tak pernah berhenti memeluk manusia dan menjadi bagian hidup darinya. Karena ruang dan waktu saya mampu menulis intermezzo ini, sebuah catatan kaki perjalanan hidup seorang manusia.
Seperti setiap manusia yang hidup dimuka bumi ini, hidup saya tak pernah seperti yang saya mau, sejak kecil saya belajar untuk menerima itu. Namun hanya waktu yang mampu mendewasakan saya. Saya belajar dengan menulis, saya selalu berharap dengan menulis saya mampu untuk terus belajar, belajar tentang apa saja, belajar untuk menjadi dewasa. Intermezzo ini mendewasakan saya, saya harap begitu. Saat ini saya berada diujung berjalan yang tengah saya lalui, saya belum mengetahui kemana langkah saya akan melangkah ketika saya telah menyelesaikan perjalanan saya yang kini tengah saya lalui. Intermezzo seperti sebuah refleksi perjalanan saya, kemana pun saya akan melangkah semoga saya tetap mampu menulis intermezzo ini. Karena dengan intermezzo saya tak hanya belajar untuk menulis saya belajar untuk hidup.
Ada beberapa teman yang membaca intermezzo, ada yang suka dan ada pula yang tidak. Ada yang peduli ada pula yang tidak. Begitulah intermezzo ini diterjemahkan semoga bagi yang membacanya tidak menciptakan kesia-siaan. Terakhir saya ingin mengucapkan terimakasih kepada intermezzo, selamat ulang tahun semoga kau tetap berada didalam alam fikiran saya hingga maut memanggil kita berdua.
Belum ada trackback.