Arreity, Animasi yang puitis

Keindahan bukan  milik siapa-siapa, keindahan hadir dari setiap celah kecil kehidupan. Sering kali kita selalu mengdiskreditkan keindahan dari hal-hal yang populis namun terkadang dari hal-hal yang jamak tersebut terkandung keindahan yang terduga. Arriety sebuah film animasi yang indah dari berbagai sisi. Background yang dibangun oleh para illustrator dari Studio Ghibi yang memproduksi film animasi ini sangat indah. Tekstur yang lembut dan efek tanpa 3D sangat halus terasa. Latar belakang yang dikembangkan ini mengingatkan saya pada lukisan Mooi indei yang menjadi cikal bakal seni rupa Indonesia.

Ricik air yang turun dari daun, bias cahaya matahari, dan semak yang melambai seakan-akan tidak hanya digambar namun dilukis dengan cat. Detail yang memukau ini membuat Arriety sangat berkualitas sebagai film animasi. Animasi ini disutradari oleh Hirosima Yonebashi, ditulis oleh Hayao Mizaki dan Keiko Niwa dan diproduseri oleh Studio Ghilbi. Diawal film saya merasakan ada plot yang sama dengan novel-novel eropa abad dua puluhan awal seperti William flaukner dan Franz Kafka, hingga akhirnya saya tahu film animasi ini adaptasi dari novel dongeng Mary Norton seorang novelis Inggirs.

Arreaty tidak hanya menyandur kisah yang surealis dari Mary Norton tapi juga membawa sebuah kisah kedalam suasana. Saya merasakan puisi dari film animasi ini, menciptakan suasana dengan tajam namun manis seperti larik-larik Sapardi Djoko Damono tahun 1970an. Tak ada satu pun sudut yang sia-sia, segalanya tajam mengungkapkan rasa. Kita tak disuguhkan animasi 3 dimensi seperti film-film animasi keluaran Walt Disney atau Pixar. Tak akan ada objek yang berkilat seperti dalam Up, Megamind, Toystory, Kungfu Panda atau Rio. Kita akan banyak melihat gambar setara lukisan Salvador Dali yang surealis. Kita akan menyaksikan desir angin yang melambaikan semak dibelakang manusia kecil yang sedang berjingkat-jingkat.

Cicele Colbe sebagai pengisi musik dalam film animasi ini memberikan efek yang manis disetiap adegan. Telinga penonton dimanjakan oleh deting harpa dan gesek biola dan violin yang membangkitkan ketenangan. Alur plot cerita yang tak melulu konflik membuat film ini ringan dan tak perlu banyak mengerutkan dahi untuk memahami pesan yang ingin disampaikan.

Saya lebih sering mereview suatu buku dari pada film namun karena film animasi ini sangat indah dalam  berbagai segi saya tersentuh memberikan sedikit komentar. Arriety sebuah animasi yang puitis.

Iklan

disebuah malam

Menikmati Blues for Narada dari Gary Moore membuat sebuah malam menjadi sangat sentimentil. Satu album Ballads and Blues 1982 telah sesak didalam telinga. Membuncahkan waktu-waktu yang tak kunjung tiba. Aku menahan diri untuk tidak membuat kopi malam ini, terlalu berat rasanya jika harus tidur larut lagi. Tak ada apa-apa malam ini, tak ada kopi atau makanan ringan. Tak ada asap rokok, sudah lama aku ingin berhenti merokok. Ku kurangi rokokku dari hari kehari mungkin akan ku coba sekali-kali untuk mengobati rindu.

Hanya diam dan tetap menulis. aku hanya menulis sesuatu yang sangat imanen, yang sangat profan, yang sederhana, yang intim dan hanya untuk sebuah satuan waktu. Aku hanya menulis untuk malam ini. Malam yang selalu menjamah sebuah hari. Malam dimana aku hanya mampu menangkap lembar-lembar kosong dari kenangan. Sebentar aku ingin mengambil teh tawar, terlalu kering tenggorokanku tanpa dibasahi apa pun dari tadi.

Hai! Aku kembali dengan teh tawar yang hangat cukup memberikan ketenangan untuk malam ini. Selalu perjalanan yang panjang untuk proses tulis menulis tapi untuk malam ini mari kita membagi kekosongan. Tak perlu selalu diisi dengan hikmah dan makna, kata-kata cukup bergerak sebagai satu runtutan rasa. Kita bisa berbagi segala angan dan khayal dalam kata-kata cukup itu saja.

Dimalam yang suntuk ini ku buka berkas-berkas lama yang berserakan. Ku telusuri lagi foto-foto yang kukumpulkan. Masih tersimpan rapih, foto seorang gadis yang kucintai didalam album kenangan. Album yang berjudul “surga” itu tergeletak di rak  buku-buku sastra dan filsafat disamping rak buku-buku sosial dan politik. Everythings is gonna alright senandung alica keys dari speaker. Mudahan-mudahan ia baik-baik saja dirumahnya, merindukanku seperti aku merindukannya.

Fikiranku melayang terbang bersama udara yang semakin mendingin. Ku fikir sebuah kehidupan tak mungkin selalu “baik-baik saja” akan ada berbagai terpaan yang menghadang. Terkadang kita manusia terlalu cepat bosan pada kenikmatan tanpa kita syukuri. Entah mengapa kita homo-sapiens yang artinya mahluk yang bijaksana selalu mencari tragedi dalam hidup. Kita selalu mencari-cari sebuah kisah dengan plot yang fluktuatif, berbagai konflik kita nikmati. Kita akan mencari pertarungan agar ada gemuruh dan menghancurkan keheningan yang rapuh. Kita tak pernah baik-baik saja dalam keadaan “baik-baik saja”.

Ketika tragedi yang terkadang kita ciptakan sendiri mulai mencabuki diri kita sendiri, kita akan berkeluh kesah hingga menciptakan karya sebagai kenangan. Karya hanya untuk mereka yang senantiasa gelisah. Kenny G yang memainkan lagu Your’re Beautyful dari James Blunt mengayun-ngayun diudara. Kita bisa dengar betapa indah sebuah kegelisahan. Malam pun semakin pekat, diantara bayang-bayang desir angin menghempas lembut. Dalam keheningan ini kurasakan hidup begitu ringan terasa, entah esok hari yang mungkin kembali dalam kepedihan yang membara.

Teh tawar ku sudah habis kusesap, ku ganti dengan segelas air putih. Kupandangi air tanpa buih itu. Melegakan kering ditenggorakan, andai air putih juga mampu melegakan kepenatan didada, ku minum air putih dua gallon per hari. Nyatanya air putih hanya mampu meringankan rasa haus yang terasa bukan sesak yang didada.

Tak ada gerimis malam ini, angin pun silih berganti berhembus. Segalanya silih berganti, tak pernah ada yang tetap. Kita akan menemukan benturan satu dengan benturan yang lain dalam hidup. Terkadang kita sendiri yang membenturkan segala sesuatunya dihadapkan kita, apa pun itu. Berbagai hadangan bukan alasan kita untuk merengsek mundur, kita harus menyerbu kedepan tanpa ada keraguan. “karena perubahan itu indah” kata seorang motivator di televisi, seorang motivator yang dicerca karena dianggap mengumbar harapan palsu pada kehidupan.

Bulan semakin meninggi, ginjal kiriku pun mulai berdenyut terasa. Kelelahan mungkin, atau akhir-akhir ini aku sering telat makan. Tapi yang sudahlah selama aku bisa membaca dan menulis aku merasa sehat-sehat saja. Aku rindu pada gadis difoto itu, malam mana yang lebih pedih dari malam dengan rindu yang meradang. Aku terlalu lelah untuk tetap menulis dan merindu, ku ingin istirahat malam ini.

intermezzo : meresapi hidup

Segalanya bertumpang tindih, meliuk tanpa malu. Saya seperti diperkosa zaman, entah saya yang terlalu lemah atau sejarah hidup yang begitu payah. Seperti dipasung oleh gelombang ombak yang buas menghantam satu pronvinsi. Inilah tsunami kehidupan yang sedang saya jalani. Ketika seakan tidak ada yang saya mengerti dan tak ada yang membuat saya mengerti. Saya terus mencoba untuk memahami bahwa hidup memang selayaknya untuk dijalani. Namun hidup selalu diperkarakan, seakan tak pernah usai untuk dituntaskan.

Seharusnya saya menulis dan meresapi apa-apa yang sudah tertulis. Kini membaca lebih menyerupai kepongahan yang dipertunjukan entah untuk siapa. Seperti coretan-coretan saya sebelumnya hanya berkisar hidup sungguh memuakan untuk diketahui pula tak terlalu indah untuk dijalani. Saya menjadi bertanya, apakah hidup pantas untuk dijalani? Mengapa harus “dijalani”? apakah kehidupan sebuah perjalanan? Hal-hal yang seakan sepele namun sungguh menganggu saya.

Mengapa tak ada yang mempekarakan hidup? Para filosof sibuk mengetahui tentang “Ada”, tentang “Eksistensi”, tentang “bahasa”, tentang ”budaya” dan tentang “Politik”. Hidup terus diberbarui, hidup hanya untuk mereka yang sendiri. Berfikir tentang hidup terkadang membuat kita lupa untuk menjalaninya, untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Namun hidup juga sesuatu yang seharusnya dipersoalkan. Para ilmuwan sibuk mencari tahu tentang fungsi otak, tentang evolusi mahluk hidup, tentang pertumbuhan nilai mata uang, tentang berkembangnya suatu kebudayaan dan tentang-tentang lainnya. Mengapa tak ada yang mencari tahu bagaimana seharusnya hidup? Bagaimana sepantasnya hidup?

Hidup didefinisikan oleh penganguran, oleh masyarakat kecil yang tertindas, oleh mereka yang sudah sangat kaya raya. Mungkin karena definisinya yang sangat cair. Setiap manusia mendefinisikan hidupnya masing-masing. Para filosof dan ilmuwan sudah memberikan pilihan hidup seperti apa yang sebaiknya dijalani. Agama mengajarkan kehidupan yang lebih baik dengan berpegangan tangan pada Tuhan. Begitu banyak pilihan manusia untuk mendefinisikan hidupnya, tak pernah ada yang tahu pasti.

Seperti ocehan-ocehan saya sebelumnya, saya mempunyai pretensi untuk mengetahui bagaimana jika saya tidak hidup. Lebih baikkah saya? Lebih burukkah? Untuk mereka yang beragama mungkin tidak hidup lebih baik karena, mereka yang tidak hidup didunia akan hidup selamanya diakhirat sana. Bagi mereka yang tak mempercayai agama, tak hidup sangat buruk karena setelah kematian tak pernah ada apa-apa, hanya kegelapan yang kosong.

Saya seringkali mendengar “saya menikmati hidup saya”, “hidup saya tak berarti” atau “hidup seperti roda yang berputar”. Hidup tak pernah statis. Hidup dinamis berkembang terus hingga akhir. Pertanyaan yang mendasar apakah hidup? Apakah hidup adalah ruang dan waktu dimana kita berada? Hidup penuh pergulatan, penuh penderitaan. Hidup begitu misterius untuk diketahui.

Mungkin ini hanya sebuah cibiran saya yang lain tentang hidup. Mungkin ini hanyalah sebuah muntahan dari kegelisahan saya. Kegelisahan ketika segala sesuatunya menghimpit; studi yang harus segera diselesaikan, karya yang tak kunjung diterbitkan, pertengkaran dengan kekasih. Mungkin ini hanya cercaan saya ketika hidup tak begitu ramah.

Saya hanya mampu terus menjalaninya, tak seharusnya peduli dengan definisinya. Sudah cukup banyak manusia yang mencoba untuk merangkumnya dalam satu kalimat namun tetap saja hidup tak pernah kunjung usai untuk dirampungkan. Mungkin hidup bisa saya ketahui ketika saya telah mengakhirinya, ketika saya sudah tak lagi hidup. Dengan kepongahan saya yang bodoh, saya definisikan hidup saya sendiri “hidup tak selayaknya hanya dijalani namun juga untuk diresapi”. Selamat menikmati dan menjalani hidup, semoga kita bertemu dikehidupan yang lain, entah kehidupan yang mana.

intermezzo sebelum 22

Sudah lama saya tak menulis intermezzo  hal itu karena berbagai aktivitas dan kontemplasi yang mendekam. Pertama kali menulis intermezzo  saya berumur diawal dua puluh tahun. Waktu tak pernah bisa diingkari kini saya sudah hampir menginjak dua puluh dua. Begitu banyak cerita yang terangkum dalam satu waktu. Sebagai manusia saya tak pernah berhenti untuk berfikir dan menyerap segala hal yang terjadi disekeliling saya. Begitu banyak hal terjadi, begitu banyak peristiwa yang menyelinap dicelah-celah ruang dan waktu. Hingga kini pun saya tak pernah mengerti kemana saya harus melangkah. intermezzo ini berawal ketika saya merasa sudah dewasa dan sepatutnya mengerti tentang dunia. Ketika saya merasa  harus tahu kemana saya akan melangkah. intermezzo ini lahir dari bergulatan batin, peristiwa yang saya lalui dan berbagai buku yang saya baca.

Seiring waktu begitu banyak yang saya pelajari dari dunia, dari ayat-ayat, dari angin utara, dari mentari pagi maupun dari henyap senja. Saya tak pernah ingin berhenti untuk mengetahui, saya tak pernah ingin berada dalam satu posisi. Saya ingin terus berjalan, berkelindan dengan ilmu, tarik menarik dengan kata-kata. Kini saya sudah menulis walau pun tidak banyak, bukannya saya tidak ingin banyak menulis. Saya tidak banyak menulis bukan karena saya tidak mau namun karena saya memang tidak mampu. Saya menulis intermezzo ini pun disela-sela begitu banyaknya hal yang seharusnya saya selesaikan. Namun apa daya saya tetap harus menulis intermezzo ini hati yang membimbing saya untuk menulis intermezzo ini.

Sedikit dan buruknya tulisan saya mungkin karena ilmu saya memang tidak sebanyak yang seharusnya atau karena bakat saya yang tidak mumpuni namun saya terus menulis walaupun begitu banyak hadangan. Saya menulis bukan karena saya ingin menjadi ‘seseorang’ namun saya menulis karena menulis untuk saya adalah panggilan hati dan dengan menulis saya hidup. Saya lupa kapan saya menulis mungkin dipertengahan sekolah menengah pertama atau sebelumnya saya sudah lupa. Menulis kini sudah menjadi bagian hidup saya seperti layaknya membaca. Tidak bisa saya pungkiri setiap kali jiwa saya merasa rapuh saya menuangkannya lewat kata-kata. Saya pernah bercita-cita menjadi penulis hingga kini pun saya masih bercita-cita untuk menjadi seorang penulis namun berbagai realitas telah saya alami hingga hari ini, hidup begitu fluktuatif sayang sekali saya sebagai manusia yang sederhana terkadang tak mampu menahan gejolak hidup. Dengan begitu banyak hal yang telah saya lewati saya menjadi ragu untuk melangkah, saya belajar dari segala hal yang pernah saya lalui, sebagai manusia saya hanya mampu untuk berusaha entah siapa yang menentukan, tuhan atau semesta. Jalan yang masih panjang ini harus saya lalui entah dengan cara apa, saya tak mungkin lagi lari.

Dengan segala keraguan untuk melangkah saya beruntung saya telah menemukan surga saya. Terimakasih untuk dirinya yang entah mengapa ia tetap berada disisi kiri saya. Saya juga berterimakasih untuk terus diberi kesempatan untuk bernafas dan menghirup udara dunia. Waktu terus berjibaku membuat dunia semakin kecil dan pepat, waktu tak pernah lelah dan kalah ia terus berdetak. Tak begitu dengan ruang, ruang ia mampu kalah oleh sesak dan penuh walau angkasa tak pernah terhitung jaraknya. Sebagai manusia yang hidup dibumi saya mencoba memahami ruang dan waktu, mereka berdua tak pernah berhenti memeluk manusia dan menjadi bagian hidup darinya. Karena ruang dan waktu saya mampu menulis intermezzo ini, sebuah catatan kaki perjalanan hidup seorang manusia.

Seperti setiap manusia yang hidup dimuka bumi ini, hidup saya tak pernah seperti yang saya mau, sejak kecil saya belajar untuk menerima itu. Namun hanya waktu yang mampu mendewasakan saya. Saya belajar dengan menulis, saya selalu berharap dengan menulis saya mampu untuk terus belajar, belajar tentang apa saja, belajar untuk menjadi dewasa. Intermezzo ini mendewasakan saya, saya harap begitu. Saat ini saya berada diujung berjalan yang tengah saya lalui, saya belum mengetahui kemana langkah saya akan melangkah ketika saya telah menyelesaikan perjalanan saya yang kini tengah saya lalui. Intermezzo seperti sebuah refleksi perjalanan saya, kemana pun saya akan melangkah semoga saya tetap mampu menulis intermezzo ini. Karena dengan intermezzo saya tak hanya belajar untuk menulis saya belajar untuk hidup.

Ada beberapa teman yang membaca intermezzo, ada yang suka dan ada pula yang tidak. Ada yang peduli ada pula yang tidak. Begitulah intermezzo ini diterjemahkan semoga bagi yang membacanya tidak menciptakan kesia-siaan. Terakhir saya ingin mengucapkan terimakasih kepada  intermezzo, selamat ulang tahun semoga kau tetap berada didalam alam fikiran saya hingga maut memanggil kita berdua.

aku disini

Love is really nothing kata john mayer, dia salah Love is everything. Aku datang dijemput gelisah bersama rintik hujan diawal senja. Maaf atas segala kesalahan dan katakataku yang tak lagi menyentuh jiwa cantikmu. Semoga kau tahu aku baikbaik saja. Semoga kau selalu menganggap aku baik baik saja. Kau tahu setiap perjalananku tak pernah karena bukan karenamu. Hanya saja aku tak selalu mampu menahan ruang dan waktu untuk menentukan arah perjalananku.

Mungkin kau sudah muak akan katakataku. Sayang sekali terkadang aku cuma punya itu. Tapi coba lihat sekali lagi kenangan yang pernah kita lalui bersama. Aku selalu berusaha semampuku dengan niat dan upaya sebisa yang kulakukan untuk menerobos setiap sekat yang berlaku sekedar untuk berdiri disisi kananmu. Disetiap hari berikutnya aku akan terus berusaha disisi kananmu, biar isi kepalaku mengejang, kakikaki patah berdarah-darah, aliran darah tersumbat membilur, aku akan tetap sekuat hati untuk terus berada disisi kananmu.

Beethoven-Fur Elise bersenandung disela-sela ritmis suara hujan menghujam pucuk pohon kelapa. Aku tak mengerti suara menciptakan rasa. Yang kutahu suara tercipta dari rasa. Dengarkan suara batinku dan kau akan tahu bahwa tak ada yang lebih indah daripada mencintaimu. Biarkan gulungan ombak menghempas dan kita menangkap riaknya diujung pantai. Kita akan mendengar suara tawa masing-masing dan suaramu adalah suara surga.

percakapan surga dan neraka

“pinanglah aku besok”

“aku tak siap”

“pinanglah! Aku takut”

“takut apa?”

“takut kamu mati”

“tenanglah dalam kematian aku meminangmu”

“gimana caranya?”

“kupinang kamu dari nirwana sana”

“aku tak percaya nirwana, tuhan pun tidak”

“ya, tapi mungkin nirwana dan tuhan percaya kamu”

“pinanglah aku besok”

“baiklah ku pinang kamu besok tanpa cincin, tanpa saksi, tanpa bismilah”

“terimakasih”

“sama-sama”

 

Adam dan Hawa

Dahulu saya sering kali diceritakan roman tentang Adam dan Hawa yang hidup disurga. Kini saya mencoba untuk menelisik kembali ingatan-ingatan purba itu. Ketika adam diciptakan ia “kesepian”. Saya mahluk yang diciptakan Tuhan dengan logika, saya mencoba telusuri ini dengan itu. “kesepian” dalam prepepsi saya adalah sebuah rasa melankolia yang tercipta karena kesendirian. Sedangkan Adam hidup disurga bersama malaikat Tuhan, saya diceritakan malaikat Tuhan sangat banyak, tak terhitung jumlahnya katanya. Dengan banyaknya malaikat yang bahkan tak terhitung jumlahnya kenapa Adam harus merasakan kesendirian?

Adam “kesepian” lalu diambil tulang rusuknya maka terciptalah Hawa. Mahluk yang lebih lembut. Mahluk yang menyeimbangkan semesta Adam, mahluk yang disayangin Adam.  Ada dua versi yang saya dengar. Antara Adam dibujuk setan untuk memakan buah khuldi dan Adam yang dibujuk  Hawa untuk memakan buah khuldi. Saya tak tahu mana yang benar namun disetiap versi mereka akhirnya terusir dari surga.

Adam dan Hawa manusia ciptaan Tuhan yang pertama. Mereka sepasang, satu memberikan satu yang lain. Apa yang dilakukan sepasang manusia berada disurga? Disurga, katanya segala ada. Apa pun yang kita inginkan ada. Tak perlu bersusah payah, berpeluh resah, surga entah ia sebuah ruang atau waktu memiliki segalanya. Saat segalanya ada, apa yang harus dilakukan? Kita tak melakukan apapun disurga bukan karena tidak ada apapun seperti penjara, disurga kita tak melakukan apapun karena segalanya ada. Saat segalanya ada, mungkinkah kita memiliki cerita? Sepasang manusia berada disurga dengan segalanya yang ada, tak memiliki cerita. Saat Adam dan Hawa tak memiliki cerita, apakah mereka hanya saling menatap? Tak mengatakan apapun? Apa yang dilakukan sepasang manusia disurga saat tak ada siapa-siapa lagi disana?

Bahwa patut untuk diingat Adam dan Hawa adalah manusia. Mereka memiliki rasa bosan, apakah mereka bosan berada disurga? Bosan, karena tak memiliki cerita apa-apa. Apa yang diberikan satu sama lain jika keduanya memiliki segalanya. Kita, manusia diciptakan Tuhan dengan imajinasi, mari kita imajinasikan Adam dan Hawa tidak tergoda setan untuk memakan buah khuldi, namun mereka memilih untuk turun kedunia karena rasa bosan mereka atas surga. Bosan karena mereka saling mencintai. Cinta sepatutnya bukan segalanya ada. Cinta mengisi kekosongan, cinta bukan hanya rayuan, bukan hanya kata-kata, bukan hanya mawar merah, bukan hanya satu set makan malam romantis, bukan hanya dansa, bukan hanya beradu birahi. Cinta adalah satu memberikan satu yang lain. Apa yang seharusnya dibagi jika bukan cerita? Apakah tidak hampa saat cinta tak memiliki narasi? Dan ya memang cinta tak hanya percakapan, cinta adalah jalinan, cinta ketika satu hati berpaut kepada hati yang lain.

Kita imajinasikan Adam dan Hawa ingin turun kedunia karena ingin memiliki cerita, cerita yang dibagi satu dengan yang lainnya. Adam dan Hawa meminta Tuhan untuk menurukan mereka ke dunia. Tuhan menunjukan  caranya, memakan buah khuldi. Dalam roman Adam  dan Hawa versi ini kita mampu merasakan cinta kasih Tuhan, Tuhan yang berempati pada kesepian Adam dan Ia menciptakan Hawa. Tuhan yang berpengertian hingga keduanya diturunkan ke dunia. Tuhan tanpa wajah garang yang mengusir kedua manusia pertamanya dari surga. Tuhan yang Maha Pengasih, bukan Tuhan yang pencemburu atau pendendam seperti tafsir Tuhan para perusak agama yang menamakan  diri mereka pembela agama. Wajah Tuhan yang Maha penyayang bukan Tuhan yang mirip satpol PP yang suka menggusur.  Betapa rendahnya kedudukan manusia, saat mereka ada dimuka bumi ini sebagai orang-orang yang terusir. Tentu kita tak menginginkan keberadaan diri kita karena kita terusir, kita lebih mengharapkan keberadaan diri kita karena kita memilih.

Saat keduanya turun ke dunia, mereka ditempatkan dibumi. Keduanya bersusah payah saling menghidupi, saling memberikan apa yang mampu mereka berikan satu ke satu lainnya. Hingga tibalah mereka keduanya memiliki cerita, hingga mereka bercakap, mereka berbicara satu ke satu lainnya. Mereka memiliki cerita masing-masing, cerita yang mereka peroleh ketika mereka saling menghidupi, cerita yang mereka dapat ketika berusaha saling memberi. Hingga akhirnya mereka saling berterimakasih, saling mensyukuri keberadaan satu sama lain. Mereka memeluk mesra asmara, lalu beranak pinaklah mereka. Sesuatu yang tak mereka memiliki ketika disurga. Cinta kasih mereka dijalin dengan susah payah, bukan kebahagiaan tanpa batas disurga.  Cinta kasih mereka hadir karena peluh, karena perjuangan.

Itulah roman Adam dan Hawa dalam tataran imajinasi saya. Liar memang namun saya rasa cinta membutuhkan kesabaran dan perjuangan tak melulu kata-kata.